Martha Christina Tiahahu, Panglima Perang Perempuan Termuda yang Ditakuti Kompeni Belanda
Jum'at, 14 Januari 2022 - 05:00 WIB
Ayah dan anak ini menjadi kompak dan sebagai pendukung bagi satu sama lain selama di medan perang. Martha selalu mendampingi sang ayah di mana pun perang berlangsung dan tak jarang ia turut angkat senjata saat perjuangan tersebut tengah berlangsung.
Martha pun tak lupa memberi semangat bagi wanita di Ouw dan Ulath. Ia berharap agar kaum wanita di sana ikut membantu pria dalam peperangan. Keikutsertaan wanita dalam perang saat itu sempat membuat Belanda kewalahan. Mereka juga merasa khawatir karena baru di tanah Maluku lah, pejuang wanitanya memiliki semangat juang yang tinggi. Bahkan Martha sendiri menjadi sosok yang disegani oleh penjajah Belanda sebagai lawannya kala itu.
Selama perjuangan melawan penjajah, hidup serba susah dan berada dalam hutan yang jauh dari perkampungan penduduk menjadi hal lumrah bagi Martha Christian Tiahahu. Termasuk saat ia ikut dalam perundingan di tengah hutan belantara bersama sang ayah sebagai komando perang.
Perundingan para pahlawan pada 14 Mei 1817 itu berisi strategi untuk melumpuhkan kekuasaan Belanda. Saat itu Martha yang baru menginjak usia 17 tahun ikut mengambil sumpah.
Dari hasil perundingan tersebut, diputuskan bahwa Martha menjadi salah satu pemimpin pasukan bersama sang ayah dan yang lainnya. Semua pasukan yang terlibat kala itu berada di bawah komando Kapitan Pattimura.
Serangan yang mereka lakukan dimulai menjelang fajar di Benteng Beverwihj. Saat semua prajurit terlelap, Martha bersama ayahnya menyusup masuk.
Saat mereka memulai aksi, Kapitan Paulus berhasil menaklukkan penjaga benteng depan. Namun secara tiba-tiba, ada seorang prajurit Belanda yang muncul dan langsung mengarahkan senjata padanya.
Untungnya kehadiran prajurit tersebut dengan cepat Martha sadari. Ia merebut senjata tersebut, namun ia justru mendapat pukulan dari prajurit di bagian pelipis dan membuat Martha tersungkur ke tanah.
Mendapati anaknya yang diserang dan terancam, Kapitan Paulus Tiahahu pun secara sigap berusaha untuk menyelamatkannya. Ia kemudian kembali merebut senapan musuh dan menyerangnya hingga kehilangan nyawa saat itu juga.
Setelah itu, Kapitan Paulus dan Martha berhasil masuk ke benteng lebih dalam bersama pejuang lain. Serangan mereka membuat musuh kewalahan dan takluk pada pejuang Maluku.Martha dan ayahnya tercatat dalam sejarah yang ikut berperang bersama Kapitan Pattimura kala itu. Mereka berhasil mengalahkan Belanda dan membakar Benteng Duurstede.
Usai serangan tersebut, Martha bersama pejuang lain terus melakukan gerilya. Ada kalanya pasukan pejuang merasa terdesak, di antaranya karena persediaan senjata yang mengurang. Hal tersebut lantas membuat pejuang harus rela mundur ke Pegunungan Ulath-Ouw. Lalu pada 11 Oktober di tahun yang sama, kembali ada peperangan yang dilakukan Belanda dengan kekuatan dari 100 orang prajurit dan dipimpin oleh Richemont.
Dalam perang itu, Richemont gugur karena tertembak. Dengan keunggulan tersebut, pasukan pejuang rakyat lantas menyerang dari segala penjuru dengan teriakan yang menggema di udara.
Martha tentunya turut andil dalam peperangan tersebut. Ia menyemangati para pejuang wanita di Ulath dan Ouw secara langsung. "Tanah ini adalah tempat kita dilahirkan. Jangan biarkan penjajah merebutnya," teriak Martha dengan semangat dalam perang tersebut. "Kita dilahirkan di sini, kita pun harus rela mati di bumi ini. Lebih baik mati dalam perjuangan daripada menjadi budak mereka!" sambungnya.
Sayangnya, peperangan tersebut berakhir kekalahan di pihak pejuang rakyat. Pada 14 November 1817, Kapitan Paulus Tiahahu, Martha Christian, Raja Hehanussa dari Negeri Titawai, Raja Utah, dan Patih Ouw ditangkap dan dibawa ke kapal perang Eversten.
Martha tetap tegar dalam penangkapan tersebut. Ia tak sedikit pun merasa gentar dan bertekad untuk terus mendampingi ayahnya. Pada 15 November 1817 pukul 09.00 pagi, dilakukan inspeksi pasukan di darat. Komisaris Jenderal Adriaan Buyskes naik ke kapal Evertsen dan memeriksa tahanan yang diajukan dalam sidang hari itu.
Dalam sidang yang berlangsung, ditetapkan lah bahwa Martha dibebaskan dari segala tuntutan dan hukuman karena masih berusia muda. Sementara itu, ayahnya justru mendapat hukuman yang berat karena masuk dalam catatan Belanda sebagai pejuang berbahaya.
Martha pun tak lupa memberi semangat bagi wanita di Ouw dan Ulath. Ia berharap agar kaum wanita di sana ikut membantu pria dalam peperangan. Keikutsertaan wanita dalam perang saat itu sempat membuat Belanda kewalahan. Mereka juga merasa khawatir karena baru di tanah Maluku lah, pejuang wanitanya memiliki semangat juang yang tinggi. Bahkan Martha sendiri menjadi sosok yang disegani oleh penjajah Belanda sebagai lawannya kala itu.
Selama perjuangan melawan penjajah, hidup serba susah dan berada dalam hutan yang jauh dari perkampungan penduduk menjadi hal lumrah bagi Martha Christian Tiahahu. Termasuk saat ia ikut dalam perundingan di tengah hutan belantara bersama sang ayah sebagai komando perang.
Perundingan para pahlawan pada 14 Mei 1817 itu berisi strategi untuk melumpuhkan kekuasaan Belanda. Saat itu Martha yang baru menginjak usia 17 tahun ikut mengambil sumpah.
Dari hasil perundingan tersebut, diputuskan bahwa Martha menjadi salah satu pemimpin pasukan bersama sang ayah dan yang lainnya. Semua pasukan yang terlibat kala itu berada di bawah komando Kapitan Pattimura.
Serangan yang mereka lakukan dimulai menjelang fajar di Benteng Beverwihj. Saat semua prajurit terlelap, Martha bersama ayahnya menyusup masuk.
Saat mereka memulai aksi, Kapitan Paulus berhasil menaklukkan penjaga benteng depan. Namun secara tiba-tiba, ada seorang prajurit Belanda yang muncul dan langsung mengarahkan senjata padanya.
Untungnya kehadiran prajurit tersebut dengan cepat Martha sadari. Ia merebut senjata tersebut, namun ia justru mendapat pukulan dari prajurit di bagian pelipis dan membuat Martha tersungkur ke tanah.
Mendapati anaknya yang diserang dan terancam, Kapitan Paulus Tiahahu pun secara sigap berusaha untuk menyelamatkannya. Ia kemudian kembali merebut senapan musuh dan menyerangnya hingga kehilangan nyawa saat itu juga.
Setelah itu, Kapitan Paulus dan Martha berhasil masuk ke benteng lebih dalam bersama pejuang lain. Serangan mereka membuat musuh kewalahan dan takluk pada pejuang Maluku.Martha dan ayahnya tercatat dalam sejarah yang ikut berperang bersama Kapitan Pattimura kala itu. Mereka berhasil mengalahkan Belanda dan membakar Benteng Duurstede.
Usai serangan tersebut, Martha bersama pejuang lain terus melakukan gerilya. Ada kalanya pasukan pejuang merasa terdesak, di antaranya karena persediaan senjata yang mengurang. Hal tersebut lantas membuat pejuang harus rela mundur ke Pegunungan Ulath-Ouw. Lalu pada 11 Oktober di tahun yang sama, kembali ada peperangan yang dilakukan Belanda dengan kekuatan dari 100 orang prajurit dan dipimpin oleh Richemont.
Dalam perang itu, Richemont gugur karena tertembak. Dengan keunggulan tersebut, pasukan pejuang rakyat lantas menyerang dari segala penjuru dengan teriakan yang menggema di udara.
Martha tentunya turut andil dalam peperangan tersebut. Ia menyemangati para pejuang wanita di Ulath dan Ouw secara langsung. "Tanah ini adalah tempat kita dilahirkan. Jangan biarkan penjajah merebutnya," teriak Martha dengan semangat dalam perang tersebut. "Kita dilahirkan di sini, kita pun harus rela mati di bumi ini. Lebih baik mati dalam perjuangan daripada menjadi budak mereka!" sambungnya.
Sayangnya, peperangan tersebut berakhir kekalahan di pihak pejuang rakyat. Pada 14 November 1817, Kapitan Paulus Tiahahu, Martha Christian, Raja Hehanussa dari Negeri Titawai, Raja Utah, dan Patih Ouw ditangkap dan dibawa ke kapal perang Eversten.
Martha tetap tegar dalam penangkapan tersebut. Ia tak sedikit pun merasa gentar dan bertekad untuk terus mendampingi ayahnya. Pada 15 November 1817 pukul 09.00 pagi, dilakukan inspeksi pasukan di darat. Komisaris Jenderal Adriaan Buyskes naik ke kapal Evertsen dan memeriksa tahanan yang diajukan dalam sidang hari itu.
Dalam sidang yang berlangsung, ditetapkan lah bahwa Martha dibebaskan dari segala tuntutan dan hukuman karena masih berusia muda. Sementara itu, ayahnya justru mendapat hukuman yang berat karena masuk dalam catatan Belanda sebagai pejuang berbahaya.
Lihat Juga :