Jaga Perdamaian, Wartawan Jangan Jadi Kompor!

Selasa, 16 November 2021 - 06:43 WIB
“Bahkan pada kasus dana hibah Rp2 triliun dari keluarga Akidi Tio yang ternyata bohong di Sumatera Selatan, itu ada media yang menulis judul Siapa Akidi Tio? Nah, dalam isi beritanya juga tidak menjawab pertanyaan tersebut. Jadi antara judul dan isi masih tanda tanya,” imbuhnya.

Alumnus UIN Walisongo Semarang itu mengatakan, masyarakat mesti cerdas memilih informasi dan tak mudah terpengaruh berita yang belum jelas kebenarannya. Terlebih, kecenderungan orang lebih menyukai informasi dari media sosial ketimbang media massa.

Baca juga: Kehebatan Mpu Nala Panglima Angkatan Laut Majapahit Penguasa Lautan yang Gentarkan Kekaisaran Mongol



“Saat ini (informasi) tidak hanya dari media massa tetapi juga media sosial. Dan itu kecepatannya luar biasa. Kalau media massa seperti kami masih ada kontrol, setelah dari wartawan ada redaktur, yang menilai berita ini layak atau tidak, ada yang salah diperbaiki. Kemudian lagi di atasnya lagi ada pemimpin redaksi yang mengontrol berita, sehingga kemungkinan terjadi konflik itu bisa diminimalisasi,” ungkapnya.

“Kita berharap para jurnalis juga harus lebih berhati-hati karena bagaimana pun apa yang kita tulis itu juga akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi kalau nulis tidak sekadar sembarangan. Jurnalis memeliki peran penting untuk menjaga perdamaian, bukan sekadar kompor atau ngipas-ngipasi agar beritanya semakin menarik,” harap dia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!