Inilah Ragam Teknologi Pengolahan Sampah untuk Perkuat ITF Sarana Jaya
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 00:00 WIB
Teknologi yang digunakan dalam pemusnahan sampah dengan thermal hydrodrive, dijelaskan Djaka, memanfaatkan Superheated Steam (syntetic gas) menjadi katalisator untuk meningkatkan suhu pada furnace boiler (ruang bakar) sekaligus bahan bakar. (Baca juga; Pemkot Jakarta Barat Manfaatkan Lalat Hitam Olah Sampah Organik )
Super heated steam itu juga dimanfaatkan sebagai sumber panas untuk proses pengeringan sampah agar terjadi pembakaran sempurna. Selain itu, untuk menjaga agar aman emisi, suhu dari perangkat tersebut dijaga pada suhu 850 derajat celcius, plus ditambah dengan filter asap menggunakan cyclone wet scrubber yang akan menyaring asap pembakaran dengan cyclone dan semburan air untuk menurunkan emisi pada ambang batas yang diizinkan.
"Namun fasilitas ini memang hanya sebagai teknologi, karena yang lebih dari itu, yang ideal, adalah adanya pemilahan di hulu atau berkonsep desentralisasi sehingga sampah terolah dan musnah di dekat sumbernya, tidak ke TPA yang luas," tuturnya.
Biokonversi Sampah Organik
Project Officer Ambitious City Promises (ACP) ICLEI di DKI Jakarta Selamet Daroyni mengungkapkan hal senada. Dia menjelaskan, yang ideal adalah pemilahan sampah dari sumber di mana saat ini baru 49% rumah tangga di Indonesia yang memilah sampah untuk menunjang pengolahan sampah dengan teknologi yang berkelanjutan.
Pihak ICLEI sendiri, menawarkan pengelolaan sampah dengan proses biokonversi sampah organik Black Soldier Fly (BSF) yang pilot projectnya bisa dilihat di fasilitas BSF di Rawasari, Jakarta Pusat, yang bisa mengolah 1 ton sampah organik per hari dengan menggunakan maggot atau belatung black soldier fly.
Super heated steam itu juga dimanfaatkan sebagai sumber panas untuk proses pengeringan sampah agar terjadi pembakaran sempurna. Selain itu, untuk menjaga agar aman emisi, suhu dari perangkat tersebut dijaga pada suhu 850 derajat celcius, plus ditambah dengan filter asap menggunakan cyclone wet scrubber yang akan menyaring asap pembakaran dengan cyclone dan semburan air untuk menurunkan emisi pada ambang batas yang diizinkan.
"Namun fasilitas ini memang hanya sebagai teknologi, karena yang lebih dari itu, yang ideal, adalah adanya pemilahan di hulu atau berkonsep desentralisasi sehingga sampah terolah dan musnah di dekat sumbernya, tidak ke TPA yang luas," tuturnya.
Biokonversi Sampah Organik
Project Officer Ambitious City Promises (ACP) ICLEI di DKI Jakarta Selamet Daroyni mengungkapkan hal senada. Dia menjelaskan, yang ideal adalah pemilahan sampah dari sumber di mana saat ini baru 49% rumah tangga di Indonesia yang memilah sampah untuk menunjang pengolahan sampah dengan teknologi yang berkelanjutan.
Pihak ICLEI sendiri, menawarkan pengelolaan sampah dengan proses biokonversi sampah organik Black Soldier Fly (BSF) yang pilot projectnya bisa dilihat di fasilitas BSF di Rawasari, Jakarta Pusat, yang bisa mengolah 1 ton sampah organik per hari dengan menggunakan maggot atau belatung black soldier fly.
Lihat Juga :