Tekan Angka Stunting, Ini Langkah Pemkot Bandung
Jum'at, 27 Agustus 2021 - 16:44 WIB
Pemkot Bandung memastikan penanganan stunting di Kota Bandung dilaksanakan secara holistik integratif, dengan memperhatikan penyebab utama yaitu gizi buruk. Foto ilustrasi SINDOnews
BANDUNG - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan penanganan stunting di Kota Bandung dilaksanakan secara holistik integratif. Dengan memperhatikan penyebab utama stunting, di antaranya layanan kesehatan, pelayanan gizi, pola asuh dan lingkungan.
“Pemkot Bandung melakukan intervensi dengan solusi dan inovasi dimulai dari hulu ke hilir. Yakni fase remaja, ibu hamil, ibu menyusui, serta fase baduta dan balita,” kata Wali Kota Bandung Oded M Danial di Bandung, Jumat (27/8/2021). Baca juga: Di Hadapan 2.300 Peserta Rakornas Daring, Rektor Unej Paparkan Inovasi Penanganan Stunting
Menurutnya, infrastuktur dan daya lingkungan menjadi hal yang tidak terpisahkan dari intervensi. "Adapun Buruan SAE (sehat, alami, ekonomis) serta pengolahan makanan hasil Buruan SAE pun menjadi bagian yang komprehensif menyasar seluruh level usia, dari remaja sampai balita,” sambungnya.
Oded menjelaskan, ada sejumlah sasaran intervensi. Sasaran tersebut terbagi ke dalam tiga fase. Pertama fase remaja putri, calon pengantin dan pasangan usia subur (PUS).
Intervensi dilakukan mulai dari pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri untuk mencegah anemia, pembinaan kelompok pusat inovasi dan konseling remaja, program Hebat (hidup sehat bersama sahabat), sampai dengan edukasi Kesehatan reproduksi calon pengantin.
Kedua, fase ibu hamil dan ibu menyusui yang menyasar pada layanan telekonseling dan Bandung SAE atau sadayana asi ekslusif serta dengan memperhatikan gizi ibu menyusui.Ketiga, fase baduta (bayi usia sampai dua tahun) dengan mengembangkan pola asuh guna menstimulasi bayi sampai dengan usia balita (bawah lima tahun). Baca juga: Di Tengah Pandemi Covid-19, Pemkab Bekasi Gelar Ajang Pemilihan Abang Mpok Bekasi
“Pemkot Bandung melakukan intervensi dengan solusi dan inovasi dimulai dari hulu ke hilir. Yakni fase remaja, ibu hamil, ibu menyusui, serta fase baduta dan balita,” kata Wali Kota Bandung Oded M Danial di Bandung, Jumat (27/8/2021). Baca juga: Di Hadapan 2.300 Peserta Rakornas Daring, Rektor Unej Paparkan Inovasi Penanganan Stunting
Menurutnya, infrastuktur dan daya lingkungan menjadi hal yang tidak terpisahkan dari intervensi. "Adapun Buruan SAE (sehat, alami, ekonomis) serta pengolahan makanan hasil Buruan SAE pun menjadi bagian yang komprehensif menyasar seluruh level usia, dari remaja sampai balita,” sambungnya.
Oded menjelaskan, ada sejumlah sasaran intervensi. Sasaran tersebut terbagi ke dalam tiga fase. Pertama fase remaja putri, calon pengantin dan pasangan usia subur (PUS).
Intervensi dilakukan mulai dari pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri untuk mencegah anemia, pembinaan kelompok pusat inovasi dan konseling remaja, program Hebat (hidup sehat bersama sahabat), sampai dengan edukasi Kesehatan reproduksi calon pengantin.
Kedua, fase ibu hamil dan ibu menyusui yang menyasar pada layanan telekonseling dan Bandung SAE atau sadayana asi ekslusif serta dengan memperhatikan gizi ibu menyusui.Ketiga, fase baduta (bayi usia sampai dua tahun) dengan mengembangkan pola asuh guna menstimulasi bayi sampai dengan usia balita (bawah lima tahun). Baca juga: Di Tengah Pandemi Covid-19, Pemkab Bekasi Gelar Ajang Pemilihan Abang Mpok Bekasi
Lihat Juga :