Ridwan Kamil Bawa Kabar Baik, Angka Kematian dan BOR RS COVID-19 di Jabar Turun
Rabu, 21 Juli 2021 - 23:23 WIB
Bukan hanya angka kematian, lanjut Kang Emil, sejak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diterapkan, BOR RS rujukan COVID-19 di Jabar per 20 Juli 2021 juga turun ke angka 77,04 persen. Apapun Puncak BOR di Jabar terjadi pada 4 Juli 2021 yang sempat menyentuh angka 90,69 persen. "Laporan kemarin 77,04 persen atau turun 13 persen," ujarnya.
Kang Emil menuturkan, angka BOR tertinggi berada di wilayah Bodebek (Bogor, Depok, Bekasi), yakni di atas 80 persen. Menurutnya, hal itu berbanding lurus dengan angka kasus COVID-19. Sementara di wilayah Priangan Timur, kata Kang Emil, BOR rata-rata sudah di angka 50 persen.
"Setelah kita cek per wilayah itu masih tinggi, di Bodebek 80-an persen, tapi di daerah Priangan Timur rata-rata sudah 50 persen, jadi kami akan beri perhatian terhadap zona Bodebek," tegasnya.
Berdasarkan hasil penelusurannya, ada tiga jenis penyakit bawaan yang menjadi penyebab meninggalnya pasien COVID-19 di Jabar, yakni hipertensi, diabetes, dan jantung. "Mayoritas komorbidnya hipertensi, diabetes, dan jantung. Usianya 50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan," sebut Kang Emil.
Untuk mengurangi angka kematian yang disebabkan oleh tiga penyakit penyerta tersebut, Kang Emil meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lebih banyak menyuplai obat-obatan agar pasien segera sembuh. "Mohon dibantu oleh Kemenkes, treatment atau obat-obatannya untuk tiga penyakit itu," pintanya.
Angka kematian diketahui juga berhubungan dengan cakupan vaksinasi. Kang Emil menyebut, Kota Bandung dan Kota Cirebon memiliki angka kematian yang rendah karena cakupan vaksinasinya sudah tinggi. "Jadi, kesimpulannya, dengan vaksinasi yang maksimal ternyata tingkat kematiannya juga rendah, di bawah 1 persen," katanya.
Berbeda dengan Kota Banjar, Kabupaten Karawang, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut, angka kematian akibat COVID-19 di wilayah tersebut cukup tinggi karena cakupan vaksinasinya pun masih rendah.
Kang Emil menuturkan, angka BOR tertinggi berada di wilayah Bodebek (Bogor, Depok, Bekasi), yakni di atas 80 persen. Menurutnya, hal itu berbanding lurus dengan angka kasus COVID-19. Sementara di wilayah Priangan Timur, kata Kang Emil, BOR rata-rata sudah di angka 50 persen.
"Setelah kita cek per wilayah itu masih tinggi, di Bodebek 80-an persen, tapi di daerah Priangan Timur rata-rata sudah 50 persen, jadi kami akan beri perhatian terhadap zona Bodebek," tegasnya.
Berdasarkan hasil penelusurannya, ada tiga jenis penyakit bawaan yang menjadi penyebab meninggalnya pasien COVID-19 di Jabar, yakni hipertensi, diabetes, dan jantung. "Mayoritas komorbidnya hipertensi, diabetes, dan jantung. Usianya 50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan," sebut Kang Emil.
Untuk mengurangi angka kematian yang disebabkan oleh tiga penyakit penyerta tersebut, Kang Emil meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lebih banyak menyuplai obat-obatan agar pasien segera sembuh. "Mohon dibantu oleh Kemenkes, treatment atau obat-obatannya untuk tiga penyakit itu," pintanya.
Angka kematian diketahui juga berhubungan dengan cakupan vaksinasi. Kang Emil menyebut, Kota Bandung dan Kota Cirebon memiliki angka kematian yang rendah karena cakupan vaksinasinya sudah tinggi. "Jadi, kesimpulannya, dengan vaksinasi yang maksimal ternyata tingkat kematiannya juga rendah, di bawah 1 persen," katanya.
Berbeda dengan Kota Banjar, Kabupaten Karawang, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut, angka kematian akibat COVID-19 di wilayah tersebut cukup tinggi karena cakupan vaksinasinya pun masih rendah.
Lihat Juga :