Berbahaya, Air Sungai Tambak Wedi Surabaya Mengandung Mikroplastik
Jum'at, 19 Maret 2021 - 17:27 WIB
Jadi langsung dibuang ke sungai. Limbah sisa cucian atau laundry tanpa di saring langsung terbuang kesungai. Alumni Jurusan Kimia Universitas Diponegoro Semarang ini melanjutkan, temuan mikroplastik di Sungai Tambak Wedi itu sangat mengkhawatirkan. Karena mikroplastik merupakan senyawa gangguan hormon, jika masuk kedalam tubuh manusia maka akan menimbulkan gangguan reproduksi dan gangguan system hormon.
“Di dalam mikroplastik terdapat senyawa-senyawa aditif seperti phtalat, bhispenil A, dan alkylfenol yang bersifat pengganggu hormon. Banyak temuan yang menunjukkan paparan mikroplastik dapat menyebabkan turunnya kualitas sperma dan menopause dini," terangnya. Baca juga:Mikroplastik, Bom Waktu dari Laut
Menurutnya, dengan adanya sumber mikroplastik yang saat ini tidak terkendali, maka dibutuhkan regulasi dari pemerintah kota dan kabupaten agar melarang dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti sachet, tas kresek, sedotan, botol air minum sekali pakai, dan sachet. "Sedangkan untuk masyarakat harus mulai menggurangi dan menolak pemakaian plastik sekali pakai,” tegas Eka.
Eka menambahkan, temuan WWF Intenasional dalam sehari manusia mengkonsumsi 0,7 gram mikroplastik, dalam 10 hari 2 lembar plastik seukuran kartu ATM seberat 7 gram dikonsumsi manusia. Mikroplastik ini berasal dari air minum dalam kemasan, air minum, seafood dan makanan yang di konsumsi setiap hari.
Umumnya dibungkus plastik, styrofoam, melalui sedotan. "Maka kita perlu mengurangi kandungan plastik dalam tubuh kita dengan cara mengurangi pemakaian plastik sekali pakai,” tegasnya.
“Di dalam mikroplastik terdapat senyawa-senyawa aditif seperti phtalat, bhispenil A, dan alkylfenol yang bersifat pengganggu hormon. Banyak temuan yang menunjukkan paparan mikroplastik dapat menyebabkan turunnya kualitas sperma dan menopause dini," terangnya. Baca juga:Mikroplastik, Bom Waktu dari Laut
Menurutnya, dengan adanya sumber mikroplastik yang saat ini tidak terkendali, maka dibutuhkan regulasi dari pemerintah kota dan kabupaten agar melarang dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti sachet, tas kresek, sedotan, botol air minum sekali pakai, dan sachet. "Sedangkan untuk masyarakat harus mulai menggurangi dan menolak pemakaian plastik sekali pakai,” tegas Eka.
Eka menambahkan, temuan WWF Intenasional dalam sehari manusia mengkonsumsi 0,7 gram mikroplastik, dalam 10 hari 2 lembar plastik seukuran kartu ATM seberat 7 gram dikonsumsi manusia. Mikroplastik ini berasal dari air minum dalam kemasan, air minum, seafood dan makanan yang di konsumsi setiap hari.
Umumnya dibungkus plastik, styrofoam, melalui sedotan. "Maka kita perlu mengurangi kandungan plastik dalam tubuh kita dengan cara mengurangi pemakaian plastik sekali pakai,” tegasnya.
(don)
Lihat Juga :