Ini Cara Menjaga Kesehatan Mata Buah Hati Saat Belajar Dari Rumah
Minggu, 17 Mei 2020 - 23:20 WIB
Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Ubaya ini menjelaskan, jika seorang anak memiliki daya akomodasi mata yang lebih besar dan berbeda dengan orang dewasa. Namun, anak dapat mengalami perpanjangan bola mata yang dapat mengakibatkan rabun jauh atau miopia.
Jika bola mata semakin memanjang (lonjong) maka minus yang diderita anak akan semakin tinggi. Selama proses pertumbuhan maka terdapat pertambahan bentuk tulang-tulang mata sehingga bola mata akan semakin besar dan sifatnya lebih elastis. Pada manusia daya akomodasi mata dan elastisitas akan berkurang dan berdampak pada penglihatan seiring bertambahnya usia.
"Anak-anak memiliki daya akomodasi yang besar sehingga tidak lelah jika melakukan ritual penglihatan dengan jarak dekat dengan laptop atau gadget. Berbeda dengan orang dewasa yang daya akomodasinya kecil sehingga mudah lelah pada mata. Jika anak bermain gadget selama satu hari penuh, rata-rata tidak memberikan gejala apa-apa. Namun, gejala akan muncul ketika anak harus melihat jauh dan penglihatan menjadi buram," ucap Sawitri Boengas.
Sebenarnya gawai tidak disarankan untuk anak-anak di waktu pertumbuhan bola mata saat usia 10 tahun pertama. Namun, kondisi COVID-19 membuat hal ini menjadi berbeda dan tidak ada pilihan lain untuk menggunakan laptop dan gawai. "Kita perlu menerapkan visual hygiene yaitu cara menggunakan mata yang baik sehingga tidak membuat gangguan penglihatan yang belum ada menjadi ada atau yang sudah ada menjadi lebih buruk," sambungnya.
Ia menjelaskan, bahwa penerapan visual hygiene harus dilakukan dengan prosedur penggunaan mata dengan benar. Pertama, jika belajar atau bermain menggunakan laptop dan gawai, sebaiknya dalam posisi duduk yang nyaman dengan jarak sekitar 60 cm. Selanjutnya, penerangan harus cukup dengan brightness layar tidak terlalu terang atau redup.
Jika bola mata semakin memanjang (lonjong) maka minus yang diderita anak akan semakin tinggi. Selama proses pertumbuhan maka terdapat pertambahan bentuk tulang-tulang mata sehingga bola mata akan semakin besar dan sifatnya lebih elastis. Pada manusia daya akomodasi mata dan elastisitas akan berkurang dan berdampak pada penglihatan seiring bertambahnya usia.
"Anak-anak memiliki daya akomodasi yang besar sehingga tidak lelah jika melakukan ritual penglihatan dengan jarak dekat dengan laptop atau gadget. Berbeda dengan orang dewasa yang daya akomodasinya kecil sehingga mudah lelah pada mata. Jika anak bermain gadget selama satu hari penuh, rata-rata tidak memberikan gejala apa-apa. Namun, gejala akan muncul ketika anak harus melihat jauh dan penglihatan menjadi buram," ucap Sawitri Boengas.
Sebenarnya gawai tidak disarankan untuk anak-anak di waktu pertumbuhan bola mata saat usia 10 tahun pertama. Namun, kondisi COVID-19 membuat hal ini menjadi berbeda dan tidak ada pilihan lain untuk menggunakan laptop dan gawai. "Kita perlu menerapkan visual hygiene yaitu cara menggunakan mata yang baik sehingga tidak membuat gangguan penglihatan yang belum ada menjadi ada atau yang sudah ada menjadi lebih buruk," sambungnya.
Ia menjelaskan, bahwa penerapan visual hygiene harus dilakukan dengan prosedur penggunaan mata dengan benar. Pertama, jika belajar atau bermain menggunakan laptop dan gawai, sebaiknya dalam posisi duduk yang nyaman dengan jarak sekitar 60 cm. Selanjutnya, penerangan harus cukup dengan brightness layar tidak terlalu terang atau redup.
Lihat Juga :