Kisah Karomah Syekh Hasanuddin Al-Palembani, Panglima Kawah Tekurep
Sabtu, 13 Februari 2021 - 05:00 WIB
Setelah menyelesaikan pendidikan awalnya di Palembang, lanjut Andi, Syekh Hasanuddin kemudian melanjutkan studinya ke Timur Tengah kepada para ulama terkenal dunia, di antaranya yakni ayahnya sendiri Khalifah Jakfar, Syekh Aid bin Ali al-Misri al-Makki, Syekh Abdullah bin Salim al-Basri, Ahmad bin Muhammad al-Nakhli dan lainnya.
"Syekh Hasanuddin menguasai berbagai disiplin ilmu agama seperti hadis, fiqih, tauhid, tasawuf, tarekat dan lainnya. Beliau menetap di Makkah bertahun-tahun bersama saudara-saudaranya Kiagus H Jakfar, Khalifah Mahdi dan lainnya. Keluarga besarnya ini telah lama bermukim di Makkah," lanjutnya.
Setelah merampungkan kuliahnya di tanah suci, selanjutnya Syekh Hasanuddin ikut mengajar di Makkah. Dengan banyak disiplin ilmu yang dikuasainya, tidak sedikit ulama dari berbagai belahan dunia pada masa tersebut belajar kepadanya.
"Sekitar tahun 1740-an, Syekh Hasanuddin kemudian pulang ke tanah kelahirannya, menetap dan mengajar ilmu-ilmu agama di guguk Pengulon di lingkungan Masjid Agung dan keraton," katanya.
Selain itu, Syekh Hasanuddin Al-Palembani juga memiliki banyak saudara perempuan, seperti Nyayu Badariah binti Jakfar, yang menikah dengan Kemas Temenggung Jumpong 1 ilir, dan melahirkan Nyimas Naimah.
"Kemudian keponakannya Nyimas Naimah ini bersuamikan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo yang berkuasa pada 1724-1757. Makam sultan dan isterinya Nyimas Naimah ini berada di dalam Guba Kawah Tekurep," ucapnya.
"Syekh Hasanuddin menguasai berbagai disiplin ilmu agama seperti hadis, fiqih, tauhid, tasawuf, tarekat dan lainnya. Beliau menetap di Makkah bertahun-tahun bersama saudara-saudaranya Kiagus H Jakfar, Khalifah Mahdi dan lainnya. Keluarga besarnya ini telah lama bermukim di Makkah," lanjutnya.
Setelah merampungkan kuliahnya di tanah suci, selanjutnya Syekh Hasanuddin ikut mengajar di Makkah. Dengan banyak disiplin ilmu yang dikuasainya, tidak sedikit ulama dari berbagai belahan dunia pada masa tersebut belajar kepadanya.
"Sekitar tahun 1740-an, Syekh Hasanuddin kemudian pulang ke tanah kelahirannya, menetap dan mengajar ilmu-ilmu agama di guguk Pengulon di lingkungan Masjid Agung dan keraton," katanya.
Selain itu, Syekh Hasanuddin Al-Palembani juga memiliki banyak saudara perempuan, seperti Nyayu Badariah binti Jakfar, yang menikah dengan Kemas Temenggung Jumpong 1 ilir, dan melahirkan Nyimas Naimah.
"Kemudian keponakannya Nyimas Naimah ini bersuamikan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo yang berkuasa pada 1724-1757. Makam sultan dan isterinya Nyimas Naimah ini berada di dalam Guba Kawah Tekurep," ucapnya.
Lihat Juga :