Pemprov Jabar Godok Strategi Buka Aktivitas Ekonomi, Ini Alasannya

Jum'at, 15 Mei 2020 - 22:08 WIB
Apalagi, lanjut Rahmat, Jabar juga selama ini menjadi daerah tujuan wisata. Penutupan objek wisata di Jabar akibat pandemi COVID-19 menambah berat tekanan ekonomi karena banyak pekerja pariwisata dan pendukungnya yang kehilangan penghasilan. "Ini berat sekali dan berakibat pada daya beli masyarakat," imbuhnya.

Daya beli masyarakat yang menurun juga berimbas pada terhambatnya distribusi pangan menyusul pengurangan omset pasar induk hingga 50%. Akibatnya, terjadi penumpukan stok pangan di Jabar. (Baca juga; Jadwal Berubah Setiap Dua Hari, Kapasitas Penumpang KLB Dikurangi )

"Komoditas ayam misalnya, peternakan ayam sudah menyiapkan produksi untuk puasa dan Lebaran, tapi karena pandemi, mereka kesulitan menjual. Bahkan, ayam sampai diobral di bawah Rp10.000, padahal BEP (break event point)-nya Rp16.000," beber Rahmat.

Oleh karenanya, Pemprov Jabar terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan kabupaten/kota, termasuk para pelaku usaha dalam upaya memulihkan kembali sektor ekonomi. Di lain sisi, Pemprov Jabar juga menyiapkan program jaring pengaman sosial dengan pembagian bantuan sosial (bansos) kepada warga terdampak COVID-19.

"Kita juga terus mendorong industri tetap bergerak, termasuk sektor kontruksi dan sebagainya agar roda ekonomi tetap berjalan," terangnya.

Rahmat menambahkan, berdasarkan kajian, pemerintah pun tidak akan mampu menahan beban ekonomi akibat pandemi COVID-19 ini. "Makanya kita sedang membuat kajian strategi exit, membuka ekonomi kembali. Rencananya setelah PSBB (selesai) 19 Mei nanti, kita akan coba membuka ekonomi kembali dengan leveling," tegasnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!