Pelacuran Tertua di Jakarta: Macao Po, Gang Mangga, Gang Hauber hingga Kramat Tunggak
Jum'at, 08 Januari 2021 - 07:10 WIB
Nah, tidak mau kalah dengan pejabat dan tuannya. Masyarakat kelas bawah atau para pelayan tuan besar juga mempunyai lokalisasi yang diperuntukkan bagi kaum kelas bawah.
Lokasinya tidak jauh dari Macao Po. Lokalisasi kelas bawah itu berada di Gang Mangga. Berbeda dengan pelacur di Macao Po yang didatangkan langsung dari luar negeri, lokalisasi Gang Mangga justru kebanyakan wanita yang berasal dari Indo atau pribumi. Walaupun ada sedikit wanita Tionghoa yang dijadikan penjaja seks, namun jumlah mereka tidak banyak. Perempuan Tionghoa yang berada di Gang Mangga adalah wanita buangan yang tidak lagi dipekerjakan di Macao Po.
Karena lokalisasi kelas bawah, maka di lokasi ini juga tidak dijamin kesehatannya. Bahkan, di Gang Mangga banyak yang terjangkit penyakit Sipilis. Karena mewabahnya penyakit yang tertular dari lokasi itu, maka penyakit ini pada abad 19 dikenal dengan penyakt Gang Mangga.
Dengan banyaknya masyarakat yang menggemari wisata syahwat, peluang bisnis pelacuran di Gang Mangga berkembang hingga banyak orang Tionghoa mendirikan rumah bordir yang kemudian dikenal dengan Soehian. Selama satu abad Soehian berdiri dan ditutup oleh Kolonial pada abad 20 karena kerap menimbulkan keributan.
Bisnis syahwat selama berabad-abad itu ternyata cukup menguntungkan sehingga lokasi pelacuran tetap menjamur walaupun telah ditutup oleh pemerintah Hindia Belanda. Usai kemerdekaan di Indonesia, lokasi pelacuran juga tetap menjamur, bahkan pusat lokalisasi yang terkenal usai kemerdekaan adalah Gang Hauber yang berada di Petojo, Jakarta Pusat. (Baca juga: Prostitusi Online di Bandung Libatkan Artis, Pramugari dan Pegawai Bank)
Namun, Gang Hauber tidak lama menjadi lokalisasi karena wali kota Jakarta Pusat kala itu Sudir menutup Gang Hauber dan namanya berubah menjadi Gang Sadar hingga akhirnya mengubah gang yang menjadi lokalisasi menjadi lingkungan yang sehat dan menjauhkan dari bau kemaksiatan.
Lokasinya tidak jauh dari Macao Po. Lokalisasi kelas bawah itu berada di Gang Mangga. Berbeda dengan pelacur di Macao Po yang didatangkan langsung dari luar negeri, lokalisasi Gang Mangga justru kebanyakan wanita yang berasal dari Indo atau pribumi. Walaupun ada sedikit wanita Tionghoa yang dijadikan penjaja seks, namun jumlah mereka tidak banyak. Perempuan Tionghoa yang berada di Gang Mangga adalah wanita buangan yang tidak lagi dipekerjakan di Macao Po.
Karena lokalisasi kelas bawah, maka di lokasi ini juga tidak dijamin kesehatannya. Bahkan, di Gang Mangga banyak yang terjangkit penyakit Sipilis. Karena mewabahnya penyakit yang tertular dari lokasi itu, maka penyakit ini pada abad 19 dikenal dengan penyakt Gang Mangga.
Dengan banyaknya masyarakat yang menggemari wisata syahwat, peluang bisnis pelacuran di Gang Mangga berkembang hingga banyak orang Tionghoa mendirikan rumah bordir yang kemudian dikenal dengan Soehian. Selama satu abad Soehian berdiri dan ditutup oleh Kolonial pada abad 20 karena kerap menimbulkan keributan.
Bisnis syahwat selama berabad-abad itu ternyata cukup menguntungkan sehingga lokasi pelacuran tetap menjamur walaupun telah ditutup oleh pemerintah Hindia Belanda. Usai kemerdekaan di Indonesia, lokasi pelacuran juga tetap menjamur, bahkan pusat lokalisasi yang terkenal usai kemerdekaan adalah Gang Hauber yang berada di Petojo, Jakarta Pusat. (Baca juga: Prostitusi Online di Bandung Libatkan Artis, Pramugari dan Pegawai Bank)
Namun, Gang Hauber tidak lama menjadi lokalisasi karena wali kota Jakarta Pusat kala itu Sudir menutup Gang Hauber dan namanya berubah menjadi Gang Sadar hingga akhirnya mengubah gang yang menjadi lokalisasi menjadi lingkungan yang sehat dan menjauhkan dari bau kemaksiatan.