Kindcrete, Vas Berbahan Limbah Fly Ash Temuan Mahasiswa yang Ngehits
Kamis, 07 Januari 2021 - 20:10 WIB
Vas bunga berbahan beton menggunakan limbah fly ash atau abu terbang sangat bermanfaat untuk mengurangi limbah serta menciptakan iklim usaha baru. Foto/Ist
SURABAYA - Vas bunga berbahan beton menggunakan limbah fly ash atau abu terbang sangat bermanfaat untuk mengurangi limbah serta menciptakan iklim usaha baru. Inovasi baru ini merupakan karya empat mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Keempat mahasiswa, Muhammad Fahlul Alhabsy, Daniel Arya Wikanindita, Muhammad Faruq Saputro, dan Shalahuddin Akbar Aviecena berhasil membuat gagasan tersebut menjadi sebuah bisnis vas yang diberi nama Kindcrete. “Nama ini merupakan akronim dari dua kata bahasa Inggris, kind dan concrete, yang berartikan beton yang ramah,” kata Muhammad Fahlul Alhabsy, Kamis (7/1/2021).
(Baca juga: Masyarakat Jateng Diajak Bertahan di Rumah 1 Bulan, Ganjar: Kita Mesti Berkorban)
Inovasi bisnis ini dilatarbelakangi limbah fly ash yang dianggap berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Apalagi jumlah pemanfaatan fly ash yang masih minim, mengingat terdapat 1.046.560 ton fly ash yang belum diolah oleh PT PLN. “Ditambah sustainable product yang tersedia di Indonesia juga terbatas,” ucapnya.
(Baca juga: OPM Bakar Pesawat Misionaris di Bandara Pagamba Intan Jaya Papua)
Berangkat dari permasalahan tersebut, Fahlul dan tim mencoba mendayagunakan limbah fly ash yang ada dengan teknik solidifikasi. Teknik ini dipilih untuk menjadikan produk bernilai jual tinggi yang aman bagi lingkungan “Produk ini diharapkan menjadi produk ramah lingkungan yang berimbas kepada gaya hidup modern yang berkelanjutan,” ujarnya.
Keempat mahasiswa, Muhammad Fahlul Alhabsy, Daniel Arya Wikanindita, Muhammad Faruq Saputro, dan Shalahuddin Akbar Aviecena berhasil membuat gagasan tersebut menjadi sebuah bisnis vas yang diberi nama Kindcrete. “Nama ini merupakan akronim dari dua kata bahasa Inggris, kind dan concrete, yang berartikan beton yang ramah,” kata Muhammad Fahlul Alhabsy, Kamis (7/1/2021).
(Baca juga: Masyarakat Jateng Diajak Bertahan di Rumah 1 Bulan, Ganjar: Kita Mesti Berkorban)
Inovasi bisnis ini dilatarbelakangi limbah fly ash yang dianggap berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Apalagi jumlah pemanfaatan fly ash yang masih minim, mengingat terdapat 1.046.560 ton fly ash yang belum diolah oleh PT PLN. “Ditambah sustainable product yang tersedia di Indonesia juga terbatas,” ucapnya.
(Baca juga: OPM Bakar Pesawat Misionaris di Bandara Pagamba Intan Jaya Papua)
Berangkat dari permasalahan tersebut, Fahlul dan tim mencoba mendayagunakan limbah fly ash yang ada dengan teknik solidifikasi. Teknik ini dipilih untuk menjadikan produk bernilai jual tinggi yang aman bagi lingkungan “Produk ini diharapkan menjadi produk ramah lingkungan yang berimbas kepada gaya hidup modern yang berkelanjutan,” ujarnya.
Lihat Juga :