Tradisi Dugderan di Tengah Corona, Begini Konsepnya
Jum'at, 17 April 2020 - 00:35 WIB
“Jadi tetap dilakukan (dugderan), tapi konsepnya sangat sederhana. Tidak ada arak-arakan, tidak ada masyarakat yang terlibat, tapi bahwa upaya untuk mengumumkan kepada masyarakat sebentar lagi Ramadan tetap akan dilaksanakan,” jelasnya.
Dugderan merupakan tradisi menyambut datangnya bulan suci Ramadan di Kota Semarang. Asal muasal dugderan dari suara bedug yang berbunyi “dug” serta suara meriam yang menggelegar “der”. Dua bunyi itu lazim terdengar di Semarang pada zaman dulu untuk memberitahu saatnya memasuki bulan puasa Ramadan.
Karenanya dalam setiap tradisi dugderan akan dilakukan pemukulan bedug serta menyalakan meriam. “Suara meriamnya tetap (ada),” tandasnya.
Dugderan merupakan tradisi menyambut datangnya bulan suci Ramadan di Kota Semarang. Asal muasal dugderan dari suara bedug yang berbunyi “dug” serta suara meriam yang menggelegar “der”. Dua bunyi itu lazim terdengar di Semarang pada zaman dulu untuk memberitahu saatnya memasuki bulan puasa Ramadan.
Karenanya dalam setiap tradisi dugderan akan dilakukan pemukulan bedug serta menyalakan meriam. “Suara meriamnya tetap (ada),” tandasnya.
(nbs)
Lihat Juga :