Tradisi Dugderan di Tengah Corona, Begini Konsepnya
Jum'at, 17 April 2020 - 00:35 WIB
FOTO/SINDOnews/Ilustrasi
SEMARANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tetap akan menggelar tradisi dugderan menyambut Ramadan meski saat ini masih dalam kondisi pandemi corona. Hanya saja, perayaan tahunan ini akan sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Perayaan dugderan kali ini tidak akan ada lagi arak-arakan Warak Ngendhog yang menjadi ciri khas tradisi ini. “Diskusinya ada dua hal. Pertama adalah sebuah prosesi yang ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa sebentar lagi Ramadan datang tapi di tengah situasi COVID-19,” tandas Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Kamis (16/4/2020). (Baca juga: Kabar Baik, Pasien Sembuh Lebih Banyak dari Korban Corona Meninggal)
“Maka dalam pandangan saya dan insya Allah ini menjadi keputusan kami nanti. Prosesi dugderan ini, cukup saya sama bu wakil wali kota yang datang ke Masjid Agung Kauman Semarang, diterima 1 atau 2 kiai takmir masjid tersebut. Kemudian takmir itu akan woro-woro atau menyampaikan kepada masyarakat lewat pengeras masjid,” lanjutnya.
Dengan prosesi sederhana itu, maka tradisi tetap berjalan sekaligus mematuhi anjuran pemerintah untuk tidak menciptakan kerumunan. Sebab, pada tradisi dugderan tahun-tahun sebelumnya selalu dipadati ribuan orang dari berbagai daerah.
Perayaan dugderan kali ini tidak akan ada lagi arak-arakan Warak Ngendhog yang menjadi ciri khas tradisi ini. “Diskusinya ada dua hal. Pertama adalah sebuah prosesi yang ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa sebentar lagi Ramadan datang tapi di tengah situasi COVID-19,” tandas Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Kamis (16/4/2020). (Baca juga: Kabar Baik, Pasien Sembuh Lebih Banyak dari Korban Corona Meninggal)
“Maka dalam pandangan saya dan insya Allah ini menjadi keputusan kami nanti. Prosesi dugderan ini, cukup saya sama bu wakil wali kota yang datang ke Masjid Agung Kauman Semarang, diterima 1 atau 2 kiai takmir masjid tersebut. Kemudian takmir itu akan woro-woro atau menyampaikan kepada masyarakat lewat pengeras masjid,” lanjutnya.
Dengan prosesi sederhana itu, maka tradisi tetap berjalan sekaligus mematuhi anjuran pemerintah untuk tidak menciptakan kerumunan. Sebab, pada tradisi dugderan tahun-tahun sebelumnya selalu dipadati ribuan orang dari berbagai daerah.
Lihat Juga :