Dokter Siloam Hospitals Raih Dua Penghargaan MURI

Jum'at, 11 Desember 2020 - 20:55 WIB
Namun semuanya tidak berhasil, maka dari itu diputuskan untuk dilakukan tindakan yang lebih canggih lagi dengan Thalamotomy untuk operasi pada Epilepsi ini. Hasilnya jauh lebih baik dibanding dua pengobatan sebelumnya. Sejauh ini pasiennya sudah stabil, sudah tidak pernah kejang jatuh lagi, dan masih tetap dikontrol dengan obat-obatan.

Untuk penyakit Tourrette Sindrome merupakan penyakit dimana pasien memiliki dua gejala yaitu kadang berteriak kencang, nafas kencang, atau berbicara kasar tanpa disadari. Gejala yang kedua, pasien melompat tanpa bisa berhenti apalagi jika sedang dalam tekanan, dimana melompat merupakan gejala terberat dalam Tourrette Sindrome. Pengobatan melalui obat-obatan juga sudah dilakukan, namun tidak menunjukan hasil yang diharapkan.

Operasi Deep Brain Stimulation penyakit Tourrette Sindrome dilakukan di Siloam Hospitals Karawaci, Tanggerang, pada November 2018. Saat ini pasien sudah melanjutkan aktivitasnya sebagai mahasiswa di Yogyakarta, dengan kondisi stabil, dan sudah tidak menunjukkan gejala apapun lagi.

“Tantangan terbesar yang dihadapi dalam menangani kasus penyakit Epilepsi ini adalah bagaimana membuat pasiennya menjadi kooperatif, karena pasiennya masih muda, kejang yang berulang-ulang dan resisten. Sehingga kondisinya kurang stabil dan mengakibatkan sulitnya berkomunikasi apalagi jika Epilepsinya sedang kambuh,” kata dokter yang sering disapa dengan sebutan dokter Made ini.

Namun seiring berjalannya waktu, kata dia, akhirnya pasiennya sudah dapat menyesuaikan diri. Sedangkan untuk kasus Tourrette Sindrome pasien sangat kooperatif, sehingga memudahkan saya dan tim yang lain dalam melakukan tindakan, tapi kesulitannya justru pada saat tindakan untuk menemukan titik Tourrette Sindrome yang akan distimulasi, karena ada pemasangan chip khusus dibagian dalam otak.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!