Mencontoh Manisnya Nanas Subang dari Kesuksesan Ef Rizal Ali

Selasa, 08 Desember 2020 - 08:52 WIB
“Kalau hanya menanam nanas, masa panennya lama. Makanya ditumpangsarikan dengan tanaman lainnya seperti pepaya, jeruk, jahe yang bisa dipanen setiap bulan,” jelasnya.

Seiring semakin meningkatnya produktivitas, dalam tempo sekitar 7 tahun luasan lahan Kelompok Tani Mekar Sari Maju ini bertambah menjadi 70 hektare. Saat ini kelompok tani ini memiliki jumlah anggota menjadi 60 orang.

Berkat kerja keras dan komitmen terhadap proses tanam, kini produksi nanas yang dihasilkan sekitar 1.500 ton per tahun.

Sebanyak 500 ton di antaranya dipasok ke salah satu pabrik pengolahan selai di Bandung. Sementara selebihnya dijual secara ritel ke Bandung, Surabaya, dan Depok.

“Sebenarnya kami juga sudah memproduksi pangan olahan dari nanas berupa keripik nanas,” kata EF Rizal.

Hanya saja, kata dia, produksi massal dan pemasaran secara luas yang direncanakan mulai April 2020 lalu terkendala oleh pandemi COVID-19.

Pandemi ini, diakui EF Rizal ikut dirasakan dampaknya bagi kelompok tani nanas. Pasokan ke pabrik yang telah disepakat, sempat terhenti akibat pabrik tidak berproduksi. Harga nanas sempat ikut anjlok karena berlimpahnya produksi.

Ketidakstabilan harga produksi pertanian dari mitra binaan sebenarnya telah dicarikan solusinya oleh PT Pupuk Kujang, yakni melalui sistem Closed Loop.

Selain harga tidak anjlok, pemasaran sistem Closed Loop ini juga memberi jaminan ketersediaan pasokan.

Sistem Closed Loop telah diimplementasikan di petani jeruk di Kabupaten Garut. Pupuk Kujang juga mulai melakukan proyek percontohan Closed Loop di areal 30.000 meter persegi untuk budidaya cabai.

Closed Loop PT Pupuk Kujang dilakukan dalam bentuk pendampingan kepada petani. Mulai dari analisa tanah, aplikasi pemupukan, budidaya hingga pemasaran hasil panen.

Program Closed Loop agribisnis ini, menjadi jembatan untuk petani dan pasar sehingga supply lebih maksimal, sementara produk maupun harga menjadi stabil.

"Kunci dari program ini adalah sinergi antarpihak, mulai dari BUMN, pemerintah, swasta, organisasi pengusaha seperti Kadin, dan kelompok tani," kata Direktur Operasi & Produksi Pupuk Kujang Robert Sarjaka.

Semua pihak yang terlibat dalam program ini, kata dia, mempunyai peranan masing-masing. Menjamin proses dari hulu hingga hilir berjalan baik, bertanggung jawab melakukan pendampingan agar produktivitas hasil taninya optimal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!