Masjid Wawoangi, Titik Nol Penyebaran Islam di Buton
Senin, 11 Mei 2020 - 13:20 WIB
Satu persatu batang bambu diikat menggunakan ijuk agar kokoh berdiri tegap. Meski pernah mengalami pergantian material bambu, namun keaslian arsitektur dan bahan bangunan terus dipertahankan oleh para penerus juru kunci masjid.
Selain bangunan masjid, masih tersimpan rapi dokumen khutbah Jumat dan doa berusia ratusan tahun dalam batang bambu. Dokumen berbahasa arab yang ditulis langsung oleh Syeikh Abdul Wahid, ulama dari Johor, Malaysia yang pertama kali membangun masjid dan menyebarkan agama Islam di Pulau Buton pada 1.534 Masehi.
La Ode Sitirimah, budayawan sekaligus juru kunci masjid berharap perhatian serius dari pemerintah untuk melestarikan dan mengembangkan kawasan masjid menjadi destinasi wisata sejarah dan religi. Selain itu, dia juga meminta bantuan tenaga ahli antropolog untuk meneliti batu prasasati bertuliskan arab gundul yang ditemukan di bawah bangunan masjid.
Selain bangunan masjid, masih tersimpan rapi dokumen khutbah Jumat dan doa berusia ratusan tahun dalam batang bambu. Dokumen berbahasa arab yang ditulis langsung oleh Syeikh Abdul Wahid, ulama dari Johor, Malaysia yang pertama kali membangun masjid dan menyebarkan agama Islam di Pulau Buton pada 1.534 Masehi.
La Ode Sitirimah, budayawan sekaligus juru kunci masjid berharap perhatian serius dari pemerintah untuk melestarikan dan mengembangkan kawasan masjid menjadi destinasi wisata sejarah dan religi. Selain itu, dia juga meminta bantuan tenaga ahli antropolog untuk meneliti batu prasasati bertuliskan arab gundul yang ditemukan di bawah bangunan masjid.
(nbs)
Lihat Juga :