Demi Pengungsi Merapi, Mereka Rela Pulang Dari Yogyakarta untuk Memasak

Rabu, 11 November 2020 - 03:13 WIB
Dalam sehari, memasak dilakukan tiga kali. Yakni pagi, siang dan sore. Warga yang terlibat adalah ibu-ibu yang berasal dari RT 1 hingga RT 4 di Dukuh Tlogolele. Karena jumlah perempuan di satu RT saja sudah banyak, maka jatah memasak juga dibuat bergiliran.

Memasak untuk pengungsi bagi warga di sekitar TPPS di Desa Tlogolele, baru pertama kali ini. Sebab saat erupsi Gunung Merapi tahun 2010 silam, semua warga di Desa Tlogolele mengungsi ke wilayah Magelang. (Baca juga: Timses Bupati Pelalawan Diduga Kendalikan Jaringan Narkotika Internasional )

"Kalau sekarang sudah ada aba-aba (mengungsi), dahulu juga belum ada gedung ini," terangnya. Mendapat giliran memasak untuk pengungsi , warga di sekitar TPPS ikhlas dan gembira. "Saya saja yang kerja di Yogyakarta, pulang agar bisa ikut membantu," ucapnya.

Ia tidak tega ketika warga di desanya tengah dalam kondisi seperti ini, dirinya enak-enak mencari uang di Yogyakarta. Meski tidak terlalu kenal dengan warga di Dukuh Stabelan, Dukuh Takeran, Dukuh Belang, dan Dukuh Gumuk, yang tengah mengungsi, namun hal itu bukan menjadi hambatan untuk membantu di dapur umum .

Saat datang ke dapur umum , warga tidak perlu membawa peralatan mengingat semuanya telah tersedia. Termasuk juga bahan makanan yang akan dimasak juga telah tersedia. Menu yang akan dimasak, daftarnya sudah disiapkan oleh petugas khusus yang membidangi dapur umum .

Tidak ada pembagian kerja secara khusus karena semuanya digarap bersama-sama. Mereka langsung tanggap terhadap apa yang harus dikerjakan. "Ada yang masak nasi, racik-racik dan lainnya. Sudah semua berjalan begitu saja," paparnya. Namun khusus untuk yang memasukkan bumbu ke masakan, dilakukan satu orang karena menyangkut rasa. (Baca juga: Bensin Tumpah, Warga Kobar Hajar Tetangga Sendiri Pakai Parang )
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!