Jejak SM Amin Nasution, Gubernur Sumut Pertama yang Dapat Gelar Pahlawan Nasional
Selasa, 10 November 2020 - 12:14 WIB
Banyak kebijakan penting yang telah diputuskan SM Amin untuk menjaga eksistensi pemerintahan sipil provinsi Sumatera Utara tetap berjalan. SM Amin juga berperan sebagai fasilitator antara Presiden Soekarno dengan rakyat Aceh dalam pembelian pesawat pertama RI.
SM Amin diberhentikan sebagai gubernur provinsi Sumatera Utara ketika Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dijalankan pada Desember 1949. Kemudian, pada 22 Agustus 1952, SM Amin kembali diangkat sebagai gubernur Sumatera Utara.
Periode kedua ini merupakan periode kedua kali bagi SM Amin dalam menjabat sebagai gubernur di Sumatera Utara.
Ia kembali dipanggil untuk mengabdi di Sumatera Utara karena pada waktu itu terdapat goncangan kedaulatan RI yang cukup besar yakni adanya konflik-konflik di Aceh juga Sumatera Utara.
Atas seluruh prestasinya dalam kancah politik, SM Amin kemudian diangkat sebagai gubernur pertama di Provinsi Riau dan dilantik pada tanggal 27 Februari 1958.
"Penganurahan pahlawam SM amin pahlawan nasional merupakan kebanggaan dan prestasi bagi masyarakat sumatera utara," ujar sejarawan Universitas Sumatera Utara, Budi Agustono.
SM Amin diberhentikan sebagai gubernur provinsi Sumatera Utara ketika Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dijalankan pada Desember 1949. Kemudian, pada 22 Agustus 1952, SM Amin kembali diangkat sebagai gubernur Sumatera Utara.
Periode kedua ini merupakan periode kedua kali bagi SM Amin dalam menjabat sebagai gubernur di Sumatera Utara.
Ia kembali dipanggil untuk mengabdi di Sumatera Utara karena pada waktu itu terdapat goncangan kedaulatan RI yang cukup besar yakni adanya konflik-konflik di Aceh juga Sumatera Utara.
Atas seluruh prestasinya dalam kancah politik, SM Amin kemudian diangkat sebagai gubernur pertama di Provinsi Riau dan dilantik pada tanggal 27 Februari 1958.
"Penganurahan pahlawam SM amin pahlawan nasional merupakan kebanggaan dan prestasi bagi masyarakat sumatera utara," ujar sejarawan Universitas Sumatera Utara, Budi Agustono.
Lihat Juga :