Pengamat Dukung Mabes Polri Tangkap Pelaku Perampokan dan Penculikan WNA di Bali

Senin, 13 Juli 2026 - 13:30 WIB
Kriminolog Edi Junaidi Ds menyoroti maraknya aksi kejahatan siber berbasis kekerasan fisik yang menyasar para pengusaha, trader kripto, hingga wisatawan asing di Bali. Foto/Dok. SindoNews
JAKARTA - Kriminolog Edi Junaidi Ds menyoroti maraknya aksi kejahatan siber berbasis kekerasan fisik (physical crypto extortion) yang menyasar para pengusaha, trader kripto, hingga wisatawan asing di Bali. Ia menilai rentetan penyekapan brutal ini merupakan operasi terstruktur dari sindikat transnasional yang memanfaatkan celah pengawasan perbatasan, pemalsuan identitas, dan fleksibilitas aset digital untuk merampok korban.

Edi menegaskan, Polri dan Ditjen Imigrasi harus segera mengambil langkah radikal dengan membentuk Satgas Khusus Transnational Crime. ”Jika tidak, Pulau Dewata berisiko dicap sebagai surga empuk bagi jaringan kejahatan global untuk pencucian uang dan mengeksekusi rival bisnisnya,” katanya, Senin (13/7/2026).



Krisis keamanan serius ini diduga kuat hanyalah puncak dari gunung es. Hal ini mengingat banyak korban memilih bungkam (safe exit) ke luar negeri demi menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman trauma dan pembunuhan. Baca juga: Polri Tangkap Buronan Kasus Online Scam Paling Dicari Asal China

Kasus terbaru mengguncang kawasan Kuta Selatan ketika Artem (41), seorang warga negara Rusia pemilik Hedonist Restaurant sekaligus trader kripto. Ia dihadang secara brutal olehkawanan bertopeng di Jalan Uluwatu yang mengendarai mobil hitam. Korban disekap selama 30 jam, dianiaya, dan diintimidasi hingga aset digitalnya senilai USD5 juta atau setara Rp90 miliar ludes dikuras paksa sebelum aliran listrik dan CCTV TKP diputus pelaku. Saat ini, Polda Bali tengah melakukan penyelidikan intensif melalui analisis sinyal seluler (cell dump).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!