Berdayakan Kampung Papua: Kolaborasi PBB, Kemendes, dan Komunitas Lokal Latih Ratusan Wirausaha Baru
Kamis, 09 Juli 2026 - 16:03 WIB
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal, Dr. H. Tabrani, M.Pd., membuka kegiatan secara daring sekaligus menegaskan dukungan pemerintah terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam implementasi Program TEKAD.
Direktur Pengembangan Produk Unggulan Desa dan Daerah Tertinggal sekaligus Project Manager Program TEKAD, Dra. Dewi Yuliani, M.P., menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi fondasi penting agar seluruh pendamping memiliki pemahaman yang sama dalam menerapkan Pendekatan Berbasis Rumah Tangga di lapangan.
"Kami berharap pelibatan perempuan dalam setiap tahapan pembangunan semakin kuat dan didukung budaya yang memberikan ruang bagi perempuan untuk berperan dalam pengambilan keputusan di desa maupun masyarakat."
PBRT disusun sebagai pedoman pemberdayaan rumah tangga miskin melalui penguatan kapasitas keluarga, penyusunan perencanaan ekonomi rumah tangga, dan integrasi dengan pembangunan kampung. Pendekatan ini juga memperkuat kapasitas fasilitator, kelembagaan desa, pembelajaran sosial antarkeluarga, hingga sistem pemantauan partisipatif agar perubahan yang dihasilkan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. (Cand.) Billy Mambrasar, S.T., B.Sc., Ed.M., MBA menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan perempuan sebagai salah satu kunci mempercepat kesejahteraan keluarga.
"Rumah tangga akan lebih maju apabila perempuan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Temuan-temuan di lapangan seperti ini menjadi masukan penting bagi pemerintah pusat maupun daerah dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran."
Program TEKAD hadir di tengah tantangan kemiskinan yang masih tinggi di Tanah Papua. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan pada Maret 2025 mencapai 19,16% di Provinsi Papua, 19,71% di Papua Selatan, 28,90% di Papua Tengah, dan 30,03% di Papua Pegunungan, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di angka 8,47%.
Direktur Pengembangan Produk Unggulan Desa dan Daerah Tertinggal sekaligus Project Manager Program TEKAD, Dra. Dewi Yuliani, M.P., menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi fondasi penting agar seluruh pendamping memiliki pemahaman yang sama dalam menerapkan Pendekatan Berbasis Rumah Tangga di lapangan.
"Kami berharap pelibatan perempuan dalam setiap tahapan pembangunan semakin kuat dan didukung budaya yang memberikan ruang bagi perempuan untuk berperan dalam pengambilan keputusan di desa maupun masyarakat."
PBRT disusun sebagai pedoman pemberdayaan rumah tangga miskin melalui penguatan kapasitas keluarga, penyusunan perencanaan ekonomi rumah tangga, dan integrasi dengan pembangunan kampung. Pendekatan ini juga memperkuat kapasitas fasilitator, kelembagaan desa, pembelajaran sosial antarkeluarga, hingga sistem pemantauan partisipatif agar perubahan yang dihasilkan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. (Cand.) Billy Mambrasar, S.T., B.Sc., Ed.M., MBA menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan perempuan sebagai salah satu kunci mempercepat kesejahteraan keluarga.
"Rumah tangga akan lebih maju apabila perempuan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Temuan-temuan di lapangan seperti ini menjadi masukan penting bagi pemerintah pusat maupun daerah dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran."
Program TEKAD hadir di tengah tantangan kemiskinan yang masih tinggi di Tanah Papua. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan pada Maret 2025 mencapai 19,16% di Provinsi Papua, 19,71% di Papua Selatan, 28,90% di Papua Tengah, dan 30,03% di Papua Pegunungan, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di angka 8,47%.
Lihat Juga :