Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Masyarakat Diimbau Waspada

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:01 WIB
"Dalam 2 hari terakhir (18 dan 19 Juni 2026), jumlah gempa Hembusan, Hybrid/Fase Banyak, dan Low Frequency meningkat drastis dengan rerata kejadian lebih dari 50 kali dalam setiap hari," ungkap Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/6/2026).

Sementara, Lana menjelaskan dari catatan sejarah tahun 1883 adalah peristiwa erupsi besar yang menghasilkan tsunami. Selain itu, goncangan gempa bumi memicu erupsi Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda pada 22 Desember 2018.

"Setelah 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunungapi Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. Jeda erupsi masih berlangsung hingga saat ini. Meskipun demikian, Gunungapi Anak Krakatau terus memperlihatkan aktivitas magmatik berenergi rendah," paparnya.

Lana menegaskan meskipun tidak disertai dengan peningkatan gempa vulkanik yang berasosiasi gempa dalam (Vulkanik A dan Vulkanik B) dan deformasi, peningkatan gempa yang berasosiasi dengan gempa vulkanik dangkal mengindikasikan adanya dinamika magma Gunungapi Anak Krakatau di bagian permukaan.

"Meskipun terjadi peningkatan gejala magmatisme permukaan, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level II (Waspada). Peningkatan gejala magmatisme ini bis menjadi awal peningkatan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau untuk menghasilkan erupsi," tegasnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!