Gembleng Praja Utama Antikorupsi, IPDN Gandeng KPK dan BPK
Kamis, 07 Mei 2026 - 18:37 WIB
Sedangkan anggota III BPK Akhsanul menyoroti dinamika dunia yang penuh gejolak, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas atau yang dikenal dengan istilah VUCA.
"Pemerintah menerapkan strategi SUPER (Sinergi, Unggul, Profesional, Empati, dan Rampak). Strategi ini ini menjadi fondasi bagi aparatur negara untuk tetap relevan dan efektif. Integrasi teknologi melalui instrumen digitalisasi dipandang sebagai solusi utama dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut di lapangan," tuturnya.
Namun, Akhsanul mengatakan era digitalisasi ini tidak terlepas dari hambatan. Pemerintah mengidentifikasi lima tantangan besar, yaitu ketimpangan antar wilayah, kualitas data, keamanan siber dan perlindungan data, adaptasi Artificial Intelligence (AI), serta aspek integritas sumber daya manusia.
"Untuk dapat bertahan dan terlepas dari hambatan ini, kalian praja IPDN calon aparatur sipil negara atau birokrat harus menguasai 4 pilar literasi digital yakni digital skills, digital ethics, digital culture dan digital safety," ujarnya.
Pada kesempatan ini, IPDN memberikan penganugerahan Alumni Kehormatan kepada ketiga narasumber ini. "Penganugerahan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi IPDN atas kontribusi, dukungan dan pengabdian ketiga narasumber yang memiliki prestasi di bidang pemerintahan juga berjasa dalam bidang pendidikan di IPDN," ujar Rektor IPDN.
Menurutnya, Prof. Akhsanul telah memberikan kontribusi strategis dalam mendorong penguatan tata kelola pemerintahan yang akuntabel sebagai bagian dari pembinaan kader pemerintahan di lingkungan IPDN. Sedangkan Irjen Pol. Asep memberikan dukungan penuh terhadap penguatan pendidikan antikorupsi dan pembangunan budaya integritas bagi kader pemerintahan di lingkungan IPDN.
Begitupun dengan Irjen Pol (Purn) Sang Made Mahendra, berkontribusi dan berkomitmen penuh dalam penguatan pengawasan serta pendampingan pada pelaksanaan Seleksi Penerimaan Calon Praja selama tiga tahun ke belakang.
"Pemerintah menerapkan strategi SUPER (Sinergi, Unggul, Profesional, Empati, dan Rampak). Strategi ini ini menjadi fondasi bagi aparatur negara untuk tetap relevan dan efektif. Integrasi teknologi melalui instrumen digitalisasi dipandang sebagai solusi utama dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut di lapangan," tuturnya.
Namun, Akhsanul mengatakan era digitalisasi ini tidak terlepas dari hambatan. Pemerintah mengidentifikasi lima tantangan besar, yaitu ketimpangan antar wilayah, kualitas data, keamanan siber dan perlindungan data, adaptasi Artificial Intelligence (AI), serta aspek integritas sumber daya manusia.
"Untuk dapat bertahan dan terlepas dari hambatan ini, kalian praja IPDN calon aparatur sipil negara atau birokrat harus menguasai 4 pilar literasi digital yakni digital skills, digital ethics, digital culture dan digital safety," ujarnya.
Pada kesempatan ini, IPDN memberikan penganugerahan Alumni Kehormatan kepada ketiga narasumber ini. "Penganugerahan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi IPDN atas kontribusi, dukungan dan pengabdian ketiga narasumber yang memiliki prestasi di bidang pemerintahan juga berjasa dalam bidang pendidikan di IPDN," ujar Rektor IPDN.
Menurutnya, Prof. Akhsanul telah memberikan kontribusi strategis dalam mendorong penguatan tata kelola pemerintahan yang akuntabel sebagai bagian dari pembinaan kader pemerintahan di lingkungan IPDN. Sedangkan Irjen Pol. Asep memberikan dukungan penuh terhadap penguatan pendidikan antikorupsi dan pembangunan budaya integritas bagi kader pemerintahan di lingkungan IPDN.
Begitupun dengan Irjen Pol (Purn) Sang Made Mahendra, berkontribusi dan berkomitmen penuh dalam penguatan pengawasan serta pendampingan pada pelaksanaan Seleksi Penerimaan Calon Praja selama tiga tahun ke belakang.
(rca)
Lihat Juga :