15.000 Anak Indonesia Terpapar COVID-19
Jum'at, 18 September 2020 - 18:53 WIB
Sementara, khusus di Jawa Tengah ada 538 anak yang terpapar COVID-19 berdasarkan data per 17 September 2020. Mereka berusia 0 hingga 11 tahun. Mereka terdiri dari 222 anak perempuan dan 316 anak laki-laki.
"Data itu berdasar sistem pelaporan coronajateng.co.idpada hari Kamis, 17 September 2020 pada pukul 11.00," ungkapnya.
Sementara itu, Setya Dipayana, dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa anak memiliki kekebalan tubuh (imunitas) yang bagus.
"Karena imunitasnya bagus, mereka kemungkinan justru menjasi asymptomatis. Yakni telah terpapar COVID-19 namun tidak menimbulkan gejala apa-apa karena mereka kebal. Akan tetapi ketika mereka berdekatan dengan orang yang kekebalannnya menurun atau orang tua, maka mereka menjadi penular. Anak-anak bisa disebut super spreader (penyebar super)," terang Setya Dipayana.
Anak-anak jadi carrier (pembawa). Dia bisa menyebarkan ke mana pun tanpa terdeteksi. (BACA JUGA: KKB di Papua Kembali Berulah, Warga Sipil dan TNI Jadi Korban)
"Namun keluarga sekarang sering bilang anaknya tidak usah dicek karena merasa kasihan. Padahal kita tahu, ia bisa menjadi penyebar. Oleh karena itu kita semua harus sadar dengan membuat adaptasi kepada kebiasaan baru bagaimana agar penularan itu tidak terjadi," jelasnya.
"Data itu berdasar sistem pelaporan coronajateng.co.idpada hari Kamis, 17 September 2020 pada pukul 11.00," ungkapnya.
Sementara itu, Setya Dipayana, dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa anak memiliki kekebalan tubuh (imunitas) yang bagus.
"Karena imunitasnya bagus, mereka kemungkinan justru menjasi asymptomatis. Yakni telah terpapar COVID-19 namun tidak menimbulkan gejala apa-apa karena mereka kebal. Akan tetapi ketika mereka berdekatan dengan orang yang kekebalannnya menurun atau orang tua, maka mereka menjadi penular. Anak-anak bisa disebut super spreader (penyebar super)," terang Setya Dipayana.
Anak-anak jadi carrier (pembawa). Dia bisa menyebarkan ke mana pun tanpa terdeteksi. (BACA JUGA: KKB di Papua Kembali Berulah, Warga Sipil dan TNI Jadi Korban)
"Namun keluarga sekarang sering bilang anaknya tidak usah dicek karena merasa kasihan. Padahal kita tahu, ia bisa menjadi penyebar. Oleh karena itu kita semua harus sadar dengan membuat adaptasi kepada kebiasaan baru bagaimana agar penularan itu tidak terjadi," jelasnya.
Lihat Juga :