Cerita Tentang Terminal 2 Bandara Soetta yang Penuh Nostalgia

Sabtu, 14 Maret 2026 - 14:28 WIB
Perubahan ini membuat Terminal 2 terasa “slightly better”, bukan revolusi besar, tetapi peningkatan yang relevan dan manusiawi.

Sementara itu, Terminal 2F kini dipusatkan sebagai terminal khusus haji dan umrah. Pengaturan ini membuat arus penumpang lebih tertata, terutama saat musim ramai. Ada kombinasi antara renovasi fisik dan penyesuaian fungsi yang membuat operasional menjadi lebih efisien.

“Otomatis kebijakan dan layout baru ini menguntungkan semua pihak: penumpang gak ribet, pengantar punya pilihan baru buat jalan-jalan di terminal, dan yang jualan juga terbantu salesnya karena bisa melayani pengantar juga,” katanya.

Selain desain dan renovasinya, Wira menyoroti kemudahan alur penumpang saat berada di Terminal 2. “Dengan ruangan yang lebih lega, kepadatan pada Terminal 2 terasa lebih terdistribusi dengan baik. Walaupun begitu ada sedikit catatan untuk signage yang terlalu kecil, sehingga agak membingungkan,” ucapnya

Human Scale: Kelebihan yang Sering Tidak Disadari

Berbeda dengan terminal modern yang serba megah dan luas, Terminal 2 justru unggul dalam satu hal penting yakni human scale.

Eka Prakasa, avgeek lainnya, menyebut Terminal 2 sebagai terminal yang paling “manusiawi” di Soekarno-Hatta. “Jarak dari pesawat ke baggage claim atau dari pintu masuk ke gate keberangkatan relatif singkat, sekitar 5–10 menit berjalan kaki. Tidak melelahkan, tidak membingungkan,” katanya.

Di tengah tren bandara global yang semakin besar dan futuristik, Terminal 2 menawarkan pengalaman yang lebih intimate. Tidak terasa intimidating, tidak membuat penumpang harus berjalan terlalu jauh sambil menarik koper berat. “Secara arsitektur, dia yang paling kerasa Indonesia banget kalau dibandingkan sama T3, rasanya kayak lebih cozy gimana gitu,” ujar Eka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!