Kisah Pilu Mpu Prapanca, Difitnah Kaum Bangsawan dan Diusir dari Istana Majapahit

Selasa, 10 Februari 2026 - 07:58 WIB
Namun dalam praktiknya, terdapat pengaturan wilayah penyebaran ajaran. Agama Siwa dianjurkan di berbagai wilayah, sementara penyebaran agama Buddha dibatasi, terutama di Jawa bagian barat. Wilayah timur seperti Bali, Gurun, dan daerah lain lebih terbuka bagi para pendeta Buddha.

Di sinilah peran Prapanca sebelumnya begitu penting. Ia disebut-sebut sebagai tokoh yang membawa dan membina para pendeta Buddha seperti Empu Barada dan Kuturan di wilayah timur. Bahkan nama “Prapanca” diduga bukan nama aslinya, melainkan samaran setelah ia terusir dari istana.

Candi Buddha



Sebagai pembesar agama Buddha, Prapanca dikenal menaruh perhatian besar pada kondisi bangunan-bangunan suci. Ia prihatin melihat banyak candi Buddha pada masa Rajasanagara mengalami kerusakan dan kurang terawat.

Dalam catatannya, ia bahkan membandingkan keindahan Candi Makam Kagenengan—bangunan bercorak Siwa—dengan candi-candi Buddha yang terbengkalai. Perbandingan itu digambarkannya bagai siang dan malam.Catatan tersebut bukan sekadar kritik, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan beragama di Majapahit.

Fitnah telah menjatuhkan Prapanca dari kursi kekuasaan agama di Majapahit. Ia dipecat, diusir, dan hidup dalam kesunyian. Namun dari pengasingan itulah lahir karya yang justru membuat namanya abadi dalam sejarah Nusantara.

Tanpa Negarakertagama, dunia mungkin tak mengenal secara utuh puncak kejayaan Majapahit. Kisah Mpu Prapanca menjadi pengingat, bahwa di balik gemilangnya sebuah kerajaan besar, tersimpan drama manusia: intrik, fitnah, kesetiaan, dan pengabdian tanpa dendam.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!