Bos HS Muhammad Suryo Bangun Masjid Rp1 Miliar di Dusun Kelahirannya
Jum'at, 16 Januari 2026 - 17:29 WIB
Ketua Takmir Masjid An Nur, Imam Romaji menceritakan, masjid itu dibangun Suparman dan warga lainnya di atas lahan wakaf seluas 5.000 meter persegi. Namun karena keterbatasan dana, lahan yang dibangun hanya 11 x 11 meter. Seluruh dinding masjid tersusun dari batu kali yang diangkut warga dari sungai sekitar. Sebagian batu dibelah, sebagian dibiarkan utuh. Hingga kini, masjid itu dikenal warga sebagai "Masjid Batu", bangunan ikonik yang menyimbolkan gotong royong masyarakat setempat.
Sebab ikatan sejarah yang kuat itulah, Suryo meminta izin pada warga dan pengurus untuk membangun ulang masjid itu. Warga pun menyambut antusias. Masjid Batu memang sudah waktunya direnovasi. Mereka bersyukur, salah satu warganya yang menjadi pengusaha sukses masih ingat pada tanah kelahiran dan masjid tempatnya belajar.
Namun warga mengajukan satu syarat penting yaitu dinding batu dan kubah masjid tidak boleh dihilangkan. "Saya setuju dinding batu dan kubah dipertahankan, sebab itu ikon. Jejak perjuangan para sesepuh,” kata Suryo.
Menurut Suryo, pembangunan masjid ini bukan hanya karena kakeknya. Melainkan bentuk pengabdian pada tanah kelahiran. Sekaligus penghormatan pada sejarah kampung dengan warganya yang berjuang bersama dalam segala keterbatasan.
Ia berharap masjid yang telah direnovasi nantinya tidak hanya berdiri megah, tetapi juga melahirkan manfaat nyata. “Kalau masjidnya makmur, masyarakatnya ikut makmur,” harapnya.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid, Waris Afandi mengatakan, Masjid Batu bukan sekadar tempat ibadah. Namun juga pusat kegiatan sosial, belajar mengaji, musyawarah warga, kegiatan pemuda, dan aktivitas sosial lainnya. “Kurang lebih 150 kepala keluarga memanfaatkan masjid ini,” katanya.
Sebab ikatan sejarah yang kuat itulah, Suryo meminta izin pada warga dan pengurus untuk membangun ulang masjid itu. Warga pun menyambut antusias. Masjid Batu memang sudah waktunya direnovasi. Mereka bersyukur, salah satu warganya yang menjadi pengusaha sukses masih ingat pada tanah kelahiran dan masjid tempatnya belajar.
Namun warga mengajukan satu syarat penting yaitu dinding batu dan kubah masjid tidak boleh dihilangkan. "Saya setuju dinding batu dan kubah dipertahankan, sebab itu ikon. Jejak perjuangan para sesepuh,” kata Suryo.
Menurut Suryo, pembangunan masjid ini bukan hanya karena kakeknya. Melainkan bentuk pengabdian pada tanah kelahiran. Sekaligus penghormatan pada sejarah kampung dengan warganya yang berjuang bersama dalam segala keterbatasan.
Ia berharap masjid yang telah direnovasi nantinya tidak hanya berdiri megah, tetapi juga melahirkan manfaat nyata. “Kalau masjidnya makmur, masyarakatnya ikut makmur,” harapnya.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid, Waris Afandi mengatakan, Masjid Batu bukan sekadar tempat ibadah. Namun juga pusat kegiatan sosial, belajar mengaji, musyawarah warga, kegiatan pemuda, dan aktivitas sosial lainnya. “Kurang lebih 150 kepala keluarga memanfaatkan masjid ini,” katanya.
Lihat Juga :