Raja Singasari Kertanagara Pencetus Penyatuan Nusantara yang Gemar Jalankan Ritual Tantrayana

Sabtu, 01 November 2025 - 07:03 WIB
Dari hasil pernikahannya, Kertanagara memiliki beberapa putri yang kemudian dinikahkan dengan Raden Wijaya atau Dyah Wijaya yang akhirnya mendirikan Kerajaan Majapahit, dari putra Mahisa Campaka versi Pararaton atau Rakryan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal versi Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara), Ardaraja (putra Jayakatong/Jayakatwang dan Terukbali) dari Dhaha (Gelang- gelang).

Selama menjabat sebagai raja di Singasari, Kertanagara telah menyatukan agama Hindu aliran Siwa dengan agama Buddha aliran Tantrayana. Dalam Pararaton, Kertanagara dikenal dengan nama Bhatara Siwa Buddha.

Sementara dalam Nagarakretagama, Kertanagara yang menyatukan kedua agama itu mendapatkan gelar Sri Jnanabajreswara. Berdasarkan kisah tertulis pada naskah-naskah kidung, Kertanagara yang mentasbihkan dirinya sebagai manusia terbebas dari segala dosa sering melaksanakan ritual agamanya dengan berpesta minuman keras.

Sayang, ritualnya itulah yang akhirnya membuat Kertanagara tewas secara ironis. Ketika itu muncul pemberontakan Jayakatwang dari Gelang-gelang. Kertanagara tewas ketika pesta minuman keras (miras) bersama para pejabat Singasari lainya, mulai Patih Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Aragani, dan Wirakreti. Sementara itu, Dyah Wijaya melarikan diri ke Sumenep.

Satu-satunya bukti sejarah yang menunjukkan keberadaan Kertanagara dalam konteks penyatuan agama Siwa-Buddha adalah patung Jina Mahakshobhya (Buddha) yang terdapat di Taman Apsari, Surabaya.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!