Raja Singasari Kertanagara Pencetus Penyatuan Nusantara yang Gemar Jalankan Ritual Tantrayana
Sabtu, 01 November 2025 - 07:03 WIB
loading...
Kerajaan Singasari mengawali misi menyatukan Nusantara di bawah Raja Kertanagara. Jauh sebelum Gajah Mada melalui Sumpah Palapanya, Kertanagara terlebih dahulu menaklukkan beberapa daerah di luar Jawa. Foto: Ist
A
A
A
KERAJAANSingasari mengawali misi menyatukan Nusantara di bawah Raja Kertanagara. Jauh sebelum Gajah Mada melalui Sumpah Palapanya, Kertanagara terlebih dahulu memulai misi menyatukan Nusantara dan menaklukkan beberapa daerah di luar Jawa.
Sosok Kertanagara lahir dari Waning Hyun atau Jayawardhani dan pernah menjabat sebagai yuwaraja di Kadiri pada tahun 1254 M. Sosoknya merupakan putra dari Ranggawuni, raja Singasari sebelumnya.
Baca juga: Kisah Jenderal TNI M Jusuf Selamat dari Berondongan Senjata Pemberontak
Kertanagara bergelar Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa, sebagaimana tercantum dalam Prasasti Mula Malurung.
Gelarnya yang lain Sri Maharajadhiraja Kertanagara Wikrama Dharmamottunggadewa tercantum dalam Prasasti Padang Roco 1286 M atau Sri Jnaneswarabajra pada Prasasti Tumpang yang memerintah pada tahun 1254-1292 M.
Dikutip dari "13 Raja Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Kerajaan di Tanah Jawa", saat memerintah di Singasari, Kertanagara didampingi sang permaisuri Sri Bajradewi.
Dari hasil pernikahannya, Kertanagara memiliki beberapa putri yang kemudian dinikahkan dengan Raden Wijaya atau Dyah Wijaya yang akhirnya mendirikan Kerajaan Majapahit, dari putra Mahisa Campaka versi Pararaton atau Rakryan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal versi Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara), Ardaraja (putra Jayakatong/Jayakatwang dan Terukbali) dari Dhaha (Gelang- gelang).
Selama menjabat sebagai raja di Singasari, Kertanagara telah menyatukan agama Hindu aliran Siwa dengan agama Buddha aliran Tantrayana. Dalam Pararaton, Kertanagara dikenal dengan nama Bhatara Siwa Buddha.
Sementara dalam Nagarakretagama, Kertanagara yang menyatukan kedua agama itu mendapatkan gelar Sri Jnanabajreswara. Berdasarkan kisah tertulis pada naskah-naskah kidung, Kertanagara yang mentasbihkan dirinya sebagai manusia terbebas dari segala dosa sering melaksanakan ritual agamanya dengan berpesta minuman keras.
Sayang, ritualnya itulah yang akhirnya membuat Kertanagara tewas secara ironis. Ketika itu muncul pemberontakan Jayakatwang dari Gelang-gelang. Kertanagara tewas ketika pesta minuman keras (miras) bersama para pejabat Singasari lainya, mulai Patih Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Aragani, dan Wirakreti. Sementara itu, Dyah Wijaya melarikan diri ke Sumenep.
Satu-satunya bukti sejarah yang menunjukkan keberadaan Kertanagara dalam konteks penyatuan agama Siwa-Buddha adalah patung Jina Mahakshobhya (Buddha) yang terdapat di Taman Apsari, Surabaya.
Sosok Kertanagara lahir dari Waning Hyun atau Jayawardhani dan pernah menjabat sebagai yuwaraja di Kadiri pada tahun 1254 M. Sosoknya merupakan putra dari Ranggawuni, raja Singasari sebelumnya.
Baca juga: Kisah Jenderal TNI M Jusuf Selamat dari Berondongan Senjata Pemberontak
Kertanagara bergelar Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa, sebagaimana tercantum dalam Prasasti Mula Malurung.
Gelarnya yang lain Sri Maharajadhiraja Kertanagara Wikrama Dharmamottunggadewa tercantum dalam Prasasti Padang Roco 1286 M atau Sri Jnaneswarabajra pada Prasasti Tumpang yang memerintah pada tahun 1254-1292 M.
Dikutip dari "13 Raja Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Kerajaan di Tanah Jawa", saat memerintah di Singasari, Kertanagara didampingi sang permaisuri Sri Bajradewi.
Dari hasil pernikahannya, Kertanagara memiliki beberapa putri yang kemudian dinikahkan dengan Raden Wijaya atau Dyah Wijaya yang akhirnya mendirikan Kerajaan Majapahit, dari putra Mahisa Campaka versi Pararaton atau Rakryan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal versi Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara), Ardaraja (putra Jayakatong/Jayakatwang dan Terukbali) dari Dhaha (Gelang- gelang).
Selama menjabat sebagai raja di Singasari, Kertanagara telah menyatukan agama Hindu aliran Siwa dengan agama Buddha aliran Tantrayana. Dalam Pararaton, Kertanagara dikenal dengan nama Bhatara Siwa Buddha.
Sementara dalam Nagarakretagama, Kertanagara yang menyatukan kedua agama itu mendapatkan gelar Sri Jnanabajreswara. Berdasarkan kisah tertulis pada naskah-naskah kidung, Kertanagara yang mentasbihkan dirinya sebagai manusia terbebas dari segala dosa sering melaksanakan ritual agamanya dengan berpesta minuman keras.
Sayang, ritualnya itulah yang akhirnya membuat Kertanagara tewas secara ironis. Ketika itu muncul pemberontakan Jayakatwang dari Gelang-gelang. Kertanagara tewas ketika pesta minuman keras (miras) bersama para pejabat Singasari lainya, mulai Patih Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Aragani, dan Wirakreti. Sementara itu, Dyah Wijaya melarikan diri ke Sumenep.
Satu-satunya bukti sejarah yang menunjukkan keberadaan Kertanagara dalam konteks penyatuan agama Siwa-Buddha adalah patung Jina Mahakshobhya (Buddha) yang terdapat di Taman Apsari, Surabaya.
(jon)
Lihat Juga :