Laskar Hizbullah Kiai dan Santri Jadi Pasukan Cadangan di Pertempuran Surabaya 10 November
Rabu, 22 Oktober 2025 - 06:24 WIB
"Jadi pemerintah Jepang itu membentuk tentara PETA untuk membantu mereka dalam menghadapi perang dunia ke-2 menghadapi sekutu. Laskar Hizbullah itu penempatannya sebagai pasukan cadangan, karena permintaan dari para ulama sehingga tokoh-tokoh Islam waktu itu kurang lebih 500 orang dilatih di bawah tentara Jepang dan PETA," ujar Agung ditemui di Kota Malang.
Selain dilatih secara militer, tokoh-tokoh Islam ini juga dipersenjatai tentara Jepang sebagai tentara cadangan. Ketika pelatihan sudah selesai, sekitar 500 orang ini akhirnya diminta kembali ke daerah masing-masing dan mendirikan pasukan Hizbullah.
"Salah satu pasukan Hizbullah ini adalah KH Masjkur yang ada di Singosari. KH Masjkur inilah yang membentuk Hizbullah di Malang bersama Mayjen Imam Soedja'i, dia adalah Panglima Divisi Untung Suropati TKR yang membawahi Malang dan sekitar karasidenan," tuturnya.
Setelah pasukan terbentuk, KH Masjkur dan Mayjen Imam Soedja'i memberikan latihan kepada pasukan dan santri dari sejumlah pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.
Agung mengetahui perjuangan Laskar Hizbullah Malang besutan KH Masjkur dan Mayjen Imam Soedja'i, karena mendapat cerita dari kakek buyutnya yang juga turut menjadi anggota pasukan Hizbullah. Sang kakek bahkan turut dilatih tentara Jepang dan PETA di Cibarusah.
Bahkan secara khusus KH Masjkur juga memberikan pelatihan kepada para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Bungkuk Singosari, sebelum akhirnya pasukan Hizbullah berangkat ke Surabaya untuk bertempur melawan tentara sekutu. Total sekitar 500 orang pasukan Hizbullah, satu di antaranya KH Masjkur asal Singosari, Malang.
Selain dilatih secara militer, tokoh-tokoh Islam ini juga dipersenjatai tentara Jepang sebagai tentara cadangan. Ketika pelatihan sudah selesai, sekitar 500 orang ini akhirnya diminta kembali ke daerah masing-masing dan mendirikan pasukan Hizbullah.
"Salah satu pasukan Hizbullah ini adalah KH Masjkur yang ada di Singosari. KH Masjkur inilah yang membentuk Hizbullah di Malang bersama Mayjen Imam Soedja'i, dia adalah Panglima Divisi Untung Suropati TKR yang membawahi Malang dan sekitar karasidenan," tuturnya.
Setelah pasukan terbentuk, KH Masjkur dan Mayjen Imam Soedja'i memberikan latihan kepada pasukan dan santri dari sejumlah pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.
Agung mengetahui perjuangan Laskar Hizbullah Malang besutan KH Masjkur dan Mayjen Imam Soedja'i, karena mendapat cerita dari kakek buyutnya yang juga turut menjadi anggota pasukan Hizbullah. Sang kakek bahkan turut dilatih tentara Jepang dan PETA di Cibarusah.
Bahkan secara khusus KH Masjkur juga memberikan pelatihan kepada para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Bungkuk Singosari, sebelum akhirnya pasukan Hizbullah berangkat ke Surabaya untuk bertempur melawan tentara sekutu. Total sekitar 500 orang pasukan Hizbullah, satu di antaranya KH Masjkur asal Singosari, Malang.
Lihat Juga :