Kekecewaan Mpu Prapanca, Pejabat Kerajaan Majapahit Jadi Korban Perselisihan Dua Agama

Jum'at, 25 Juli 2025 - 07:49 WIB
Kakawin Nagarakretagama Pupuh 32 dituliskan Prapanca bagaimana dia termenung menghadap ke Hayam Wuruk untuk memberikan laporan. Sejarawan Prof Slamet Muljana pada bukunya "Tafsir Sejarah Nagarakretagama", Prapanca lantas melepaskan jabatan sebagai penjabat di urusan agama Buddha.

Alasannya simpel demi menegakkan ketertiban dan peraturan di agama Buddha. Prapanca tak mau nafsunya pada jabatan sampai melupakan kedekatannya dengan agamanya. Di Pupuh 32 pula diceritakan Prapanca berangkat ke Asrama Sagara meninggalkan hiruk pikuk ibu kota kerajaan.

Maka pembesar urusan agama Buddha itu mendapat paraban prapanca yang berarti "perintang dan penyesat" dari para pemeluk agama Siwa. Nama olok-olok itu tetap dipakainya, bahkan ketika dia menciptakan pujasastranya, Nagarakretagama, untuk baginda.

Penulisan pujasastra itu merupakan bukti adanya cinta bakti pencipta kepada baginda, meski dia telah mendapat cap perintang, penyesat, dan telah lepas dari kedudukannya sebagai pembesar urusan agama Budha dalam Kerajaan Majapahit dan menetap di lereng gunung, jauh dari kota.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!