Dari Satu Ember Sampah, Ema Suranta Bikin Perubahan Lingkungan

Kamis, 29 Mei 2025 - 13:15 WIB
Menyikapi situasi tersebut, Ema memilih untuk bertindak. Sejak 2019, Ema memprakarsai pembentukan Bank Sampah Bukit Berlian di lingkungan RW-nya, sekitar 15 km dari TPA Sarimukti. Awalnya, bank sampah ini mengumpulkan limbah anorganik seperti plastik dan kertas, dengan sistem barter yang memungkinkan warga menukarkan sampah dengan peralatan rumah tangga. Metode ini terbukti efektif, dengan jumlah anggota aktif mencapai lebih dari 80 orang dalam waktu singkat.

Namun, Ema menyadari bahwa jenis sampah terbanyak berasal dari limbah organik rumah tangga. Ia kemudian menggandeng Bening Saguling Foundation, yang mengenalkannya pada budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly, makhluk pengurai sampah organik yang memiliki nilai jual tinggi sebagai pakan ternak dan ikan.

Berbekal pembiayaan awal Rp3 juta dari program Mekaar milik PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Ema mulai mengolah sampah organik secara mandiri. Dukungan dari PNM terus berlanjut, termasuk pembangunan dua kandang maggot senilai hingga Rp100 juta. Kini, Bank Sampah Bukit Berlian memiliki 120 anggota aktif dan mampu mengolah 15 ton sampah organik per bulan dengan hasil panen maggot mencapai 2 ton setiap 24 hari.

Inovasi Ema tidak berhenti di situ. Ketika pembeli maggot utama berhenti membeli, Ema bersama komunitasnya membangun kolam ikan lele sendiri. Dukungan dari Kepala Desa pun datang dalam bentuk bantuan 5.000 ekor bibit lele. Saat panen, warga sekitar diundang untuk merasakan hasil kerja kolektif komunitas tersebut.

"Jadi sekarang kami serap sendiri produk maggot untuk ternak lele," kata Ema kepada wartawan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!