Dampak COVID-19, Omset Kedai Sate Maranggi Terjun Bebas
Minggu, 03 Mei 2020 - 16:13 WIB
Ketika kondisi normal, kedai miliknya ini termasuk paling ramai di antara tempat-tempat lainnya. Maklum Wa Heri termasuk generasi kelima dari penemu sate Maranggi khas Purwakarta. Rasa dari hasil olahan daging sapi atau kambingnya memiliki cita rasa tersendiri dengan didominasi bumbu rempah warisan leluhurnya.
Menurut Wa Heri, omsetnya turun drastis setiap harinya. Dia tidak bisa memprediksi dampak yang akan terjadi jika pandemi belum juga tuntas hingga lewat Lebaran ini. Usaha yang sudah dirintisnya bertahun-tahun itu terancam berakhir. Bagaimana tidak, omsetnya terjun bebas hingga 60%, sebab pelanggannya didominasi orang luar Purwakarta, seperti dari Jakarta.
"Dengan adanya PSBB di daerah lain praktis saja pelanggan tidak pernah datang lagi ke kedai. Saat ini kami hanya mengandalkan pelanggan lokal ,"ungkap Wa Heri kepada SINDOnews, Minggu (3/5/2020). (Baca juga; PLN Bakal Gratiskan Pelanggan Bisnis Kecil dan Industri Kecil selama 6 Bulan )
Dia menyebutkan, dalam kondisi seperti ini hanya mampu menghabiskan sekitar 4 kg daging sapi dan 1,2 kg daging kambing. Pendapatan pun dari awalnya mampu mendapat untung sekitar Rp1 juta kini hanya Rp400.000 per hari.
Sementara kedainya memiliki lima karyawan yang harus dibayar setiap bulannya. 'Kami berharap situasi ini segera berakhir. Ekonomi masyarakat semuanya dalam keadaan memprihatinkan," harapnya. (Baca juga; Terdampak Wabah Corona, Lebih dari 3.000 Pekerja di Bandung Kena PHK )
Menurut Wa Heri, omsetnya turun drastis setiap harinya. Dia tidak bisa memprediksi dampak yang akan terjadi jika pandemi belum juga tuntas hingga lewat Lebaran ini. Usaha yang sudah dirintisnya bertahun-tahun itu terancam berakhir. Bagaimana tidak, omsetnya terjun bebas hingga 60%, sebab pelanggannya didominasi orang luar Purwakarta, seperti dari Jakarta.
"Dengan adanya PSBB di daerah lain praktis saja pelanggan tidak pernah datang lagi ke kedai. Saat ini kami hanya mengandalkan pelanggan lokal ,"ungkap Wa Heri kepada SINDOnews, Minggu (3/5/2020). (Baca juga; PLN Bakal Gratiskan Pelanggan Bisnis Kecil dan Industri Kecil selama 6 Bulan )
Dia menyebutkan, dalam kondisi seperti ini hanya mampu menghabiskan sekitar 4 kg daging sapi dan 1,2 kg daging kambing. Pendapatan pun dari awalnya mampu mendapat untung sekitar Rp1 juta kini hanya Rp400.000 per hari.
Sementara kedainya memiliki lima karyawan yang harus dibayar setiap bulannya. 'Kami berharap situasi ini segera berakhir. Ekonomi masyarakat semuanya dalam keadaan memprihatinkan," harapnya. (Baca juga; Terdampak Wabah Corona, Lebih dari 3.000 Pekerja di Bandung Kena PHK )
(wib)
Lihat Juga :