Kisah Hubungan Kerajaan Mataram dan Surabaya Berkat Pernikahan Putra Mahkotanya
Selasa, 15 April 2025 - 07:19 WIB
Baca juga: 49 Perwira Polri di Mutasi Kapolri pada April 2025, Ini Daftar Lengkapnya
Anak pertama dari perkawinan ini meninggal dalam usia muda, anak yang kedua kemudian menjadi Sunan Mangkurat II. Empat puluh hari setelah melahirkan anak itu, ibunya meninggal.
Pada 1637, putra mahkota menjadi pusat suatu komplotan intrik Istana yang gawat. Tumenggung Danupaya dan Tumenggung Sura Agul-Agul, yang pada 1629 turut menyerang Belanda di Batavia, terlibat dalam komplotan itu
Menurut Antonie Paulo, pemimpin para tawanan Belanda, kiranya berlaku zina. Sehubungan dengan ini, Van Goens menyebutkan, kemungkinan putra mahkota menculik istri tercantik Tumenggung Wiraguna. Pendukung-pendukung adiknya, Pangeran Alit, antara lain tentunya Tumenggung Danupaya melaporkan hal itu kepada raja, dengan harapan hak-hak putra mahkota akan dicabut, dan digantikan oleh Pangeran Alit.
Tetapi hal itu ternyata sia-sia. Sunan justru memarahi kedua belah pihak, tetapi tetap mempertahankan putra mahkota, sekalipun yang terakhir selama beberapa waktu dibuang dari istana. Putra mahkota itu lantas kembali menerima bimbingan dari gurunya, Tumenggung Mataram yang tua itu.
Anak pertama dari perkawinan ini meninggal dalam usia muda, anak yang kedua kemudian menjadi Sunan Mangkurat II. Empat puluh hari setelah melahirkan anak itu, ibunya meninggal.
Pada 1637, putra mahkota menjadi pusat suatu komplotan intrik Istana yang gawat. Tumenggung Danupaya dan Tumenggung Sura Agul-Agul, yang pada 1629 turut menyerang Belanda di Batavia, terlibat dalam komplotan itu
Menurut Antonie Paulo, pemimpin para tawanan Belanda, kiranya berlaku zina. Sehubungan dengan ini, Van Goens menyebutkan, kemungkinan putra mahkota menculik istri tercantik Tumenggung Wiraguna. Pendukung-pendukung adiknya, Pangeran Alit, antara lain tentunya Tumenggung Danupaya melaporkan hal itu kepada raja, dengan harapan hak-hak putra mahkota akan dicabut, dan digantikan oleh Pangeran Alit.
Tetapi hal itu ternyata sia-sia. Sunan justru memarahi kedua belah pihak, tetapi tetap mempertahankan putra mahkota, sekalipun yang terakhir selama beberapa waktu dibuang dari istana. Putra mahkota itu lantas kembali menerima bimbingan dari gurunya, Tumenggung Mataram yang tua itu.
(cip)
Lihat Juga :