Kisah Hubungan Kerajaan Mataram dan Surabaya Berkat Pernikahan Putra Mahkotanya
Selasa, 15 April 2025 - 07:19 WIB
Kerajaan Mataram Islam dan Surabaya konon memiliki hubungan erat berkat pernikahan politis putra mahkotanya. Foto/SinidoNews
SEMARANG - Kerajaan Mataram Islam dan Surabaya konon memiliki hubungan erat berkat pernikahan politis putra mahkotanya. Sultan Agung penguasa Kesultanan Mataram Islam memang sempat menikahkan putra mahkotanya dengan seorang putri Pangeran Pekik.
Konon semasa masih muda putra mahkota Kerajaan Mataram dididik oleh Tumenggung Mataram yang tua, yang sudah dikenal oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Goens. Tumenggung ini pasti bukanlah Tumenggung Danupaya, guru Pangeran Alit, sekalipun dari catatan sejarah Van Goens menyebutnya guru mereka berdua.
Mungkin karena ia juga menjadi Tumenggung Mataram antara 1629 dan 1637. Selain itu, tawanan-tawanan Belanda yang mau atau harus mengabdi pada putra mahkota, mungkin juga mempunyai pengaruh pada anak muda itu.
Baca juga: Raja Mataram Hukum Pejabat Tingginya Akibat Tak Ikut Membangun Istana Megah Plered
Dikutip SindoNews, Selasa (15/4/2025) dari buku "Disintegrasi Mataram: Di bawah Mangkurat I" dari tulisan H.J. De Graaf, sang putra mahkota Mataram itu konon dididik delama kurang lebih 10 tahun sejak usai 5 sampai 15 tahun. Beberapa pendidikan karakter dan peperangan konon diberikan kepada putra mahkota muda kala itu.
Setelah ia dewasa, pada 1643 Sultan Agung mengawinkan putra mahkota dengan seorang putri Pangeran Pekik, putra penguasa Surabaya yang berhasil ditaklukkan oleh Mataram. Konon ini mungkin sekali bukan anak perkawinannya dengan adik perempuan Sultan Agung, Ratu Pandansari. Dengan cara demikian terjadilah ikatan antara Kerajaan Mataram dan Kerajaan Surabaya.
Konon semasa masih muda putra mahkota Kerajaan Mataram dididik oleh Tumenggung Mataram yang tua, yang sudah dikenal oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Goens. Tumenggung ini pasti bukanlah Tumenggung Danupaya, guru Pangeran Alit, sekalipun dari catatan sejarah Van Goens menyebutnya guru mereka berdua.
Mungkin karena ia juga menjadi Tumenggung Mataram antara 1629 dan 1637. Selain itu, tawanan-tawanan Belanda yang mau atau harus mengabdi pada putra mahkota, mungkin juga mempunyai pengaruh pada anak muda itu.
Baca juga: Raja Mataram Hukum Pejabat Tingginya Akibat Tak Ikut Membangun Istana Megah Plered
Dikutip SindoNews, Selasa (15/4/2025) dari buku "Disintegrasi Mataram: Di bawah Mangkurat I" dari tulisan H.J. De Graaf, sang putra mahkota Mataram itu konon dididik delama kurang lebih 10 tahun sejak usai 5 sampai 15 tahun. Beberapa pendidikan karakter dan peperangan konon diberikan kepada putra mahkota muda kala itu.
Setelah ia dewasa, pada 1643 Sultan Agung mengawinkan putra mahkota dengan seorang putri Pangeran Pekik, putra penguasa Surabaya yang berhasil ditaklukkan oleh Mataram. Konon ini mungkin sekali bukan anak perkawinannya dengan adik perempuan Sultan Agung, Ratu Pandansari. Dengan cara demikian terjadilah ikatan antara Kerajaan Mataram dan Kerajaan Surabaya.
Lihat Juga :