Haji Darip, Jawara Betawi yang Berani Keroyok Tentara Jepang dan Belanda hingga Kocar Kacir
Senin, 24 Februari 2025 - 08:18 WIB
Baca juga: Kisah Preman Paling Ditakuti di Jakarta dan Dua Jagoan Penguasa Pelabuhan Tanjung Priok
Mereka memburu para pemimpin perlawanan seperti Haji Maulana, Haji Salim, dan Murhim, seorang algojo yang dikenal kejam terhadap tentara Belanda dan antek-anteknya.
Bekasi menjadi medan pertempuran yang tak terduga bagi pasukan Belanda. Mereka harus menghadapi strategi gerilya yang sulit diprediksi.
Kelompok pejuang di bawah Haji Darip memanfaatkan kondisi geografis untuk menyerang dan menghilang dengan cepat. Markas mereka berpindah dari Klender ke Purwakarta demi menghindari serangan besar-besaran.
Selain kelompok Haji Darip, pasukan lain yang dikenal sebagai "Banteng Merah" turut memberikan perlawanan sengit.
Dipimpin oleh Haji Rian bin Sirun, pasukan ini memiliki sekitar 15 anggota bersenjata, termasuk dua revolver dan tiga karabin. Mereka kerap berpindah markas ke Pekayon dan Cikunir untuk menghindari deteksi musuh.
Di Teluk Pucung, sekitar 50 pejuang bersenjatakan pistol dan karabin terus melakukan serangan balik terhadap Sekutu. Kelompok ini memiliki kendaraan tempur sederhana, termasuk sepeda motor yang digunakan untuk patroli dan penyergapan mendadak.
Mereka memburu para pemimpin perlawanan seperti Haji Maulana, Haji Salim, dan Murhim, seorang algojo yang dikenal kejam terhadap tentara Belanda dan antek-anteknya.
Bekasi menjadi medan pertempuran yang tak terduga bagi pasukan Belanda. Mereka harus menghadapi strategi gerilya yang sulit diprediksi.
Kelompok pejuang di bawah Haji Darip memanfaatkan kondisi geografis untuk menyerang dan menghilang dengan cepat. Markas mereka berpindah dari Klender ke Purwakarta demi menghindari serangan besar-besaran.
Banteng Merah dan Perlawanan Rakyat
Selain kelompok Haji Darip, pasukan lain yang dikenal sebagai "Banteng Merah" turut memberikan perlawanan sengit.
Dipimpin oleh Haji Rian bin Sirun, pasukan ini memiliki sekitar 15 anggota bersenjata, termasuk dua revolver dan tiga karabin. Mereka kerap berpindah markas ke Pekayon dan Cikunir untuk menghindari deteksi musuh.
Di Teluk Pucung, sekitar 50 pejuang bersenjatakan pistol dan karabin terus melakukan serangan balik terhadap Sekutu. Kelompok ini memiliki kendaraan tempur sederhana, termasuk sepeda motor yang digunakan untuk patroli dan penyergapan mendadak.
Lihat Juga :