Surau Lubuk Bauk, Antara Cinta Kandas dan Lahirnya Ulama Besar Buya Hamka
Minggu, 03 Mei 2020 - 05:32 WIB
Bangunan surau memiliki atap bersusun tiga yang terbuat dari seng. Atap pertama dan kedua berbentuk limasan, sedangkan atap ketiga yang juga berfungsi sebagai menara memiliki bentuk gonjang. Dari keempat sisinya, dari puncak atasnya terdapat hiasan berbentuk catra seperti pada bagian puncak stupa.
Susunan atap dengan bangunan menara tersebut, melambangkan falsafah hidup masyarakat Minangkabau. Dinding-dindingnya polos tanpa hiasan ukiran, atapnya bersusun empat tanpa kubah, atap susun ketiga merupakan atap gonjong menghadap ke rah mata angin.
Bagian dinding yang berbentuk segitiga dengan penutup gonjong dikeempat sisinya, terdapat hiasan berupa motif hiasan dari Minangkabau, Belanda, dan China.
Surau ini dulu merupakan tempat ulama besar Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) menimba ilmu Alquran. Bahkan, di surau ini pula Buya Hamka terinspirasi menulis novel berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk yang terkenal itu.
Menurut Amni Destari, Juru Pelihara Surau Lubuk Bauk, novel tersebut sebenarnya tentang kisah hidup Buya Hamka saat menuntut ilmu di sana.
Susunan atap dengan bangunan menara tersebut, melambangkan falsafah hidup masyarakat Minangkabau. Dinding-dindingnya polos tanpa hiasan ukiran, atapnya bersusun empat tanpa kubah, atap susun ketiga merupakan atap gonjong menghadap ke rah mata angin.
Bagian dinding yang berbentuk segitiga dengan penutup gonjong dikeempat sisinya, terdapat hiasan berupa motif hiasan dari Minangkabau, Belanda, dan China.
Surau ini dulu merupakan tempat ulama besar Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) menimba ilmu Alquran. Bahkan, di surau ini pula Buya Hamka terinspirasi menulis novel berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk yang terkenal itu.
Menurut Amni Destari, Juru Pelihara Surau Lubuk Bauk, novel tersebut sebenarnya tentang kisah hidup Buya Hamka saat menuntut ilmu di sana.
Lihat Juga :