Kisah Pasukan Kapitan Pattimura dengan Benteng Laut Paksa Belanda Berunding Akhiri Perang di Maluku
Senin, 27 Januari 2025 - 08:27 WIB
Keunggulan penduduk desa itu disebabkan sistem perbentengan yang kukuh. Sejak direbutnya Duurstede pada bulan Mei, Kapitan Pattimura telah menginstruksikan penduduk desa itu membangun sistem perbentengan.
Ada perbentengan yang sederhana hanya berupa sebuah garis lurus di depan desa yang menghadap ke laut, dikutip dari buku "Sejarah Nasional Indonesia IV: Kemunculan Penjajahan di Indonesia". Ada pula sistem perbentengan yang lebih kompleks seperti yang terdapat di Paperu, Ouw-Ulat, dan Sisisory.
Benteng-benteng terakhir ini terdiri atas dinding yang berlapis-lapis sejajar dengan jalan masuk ke desa. Setiap pasukan musuh yang melaluinya pasti dapat diserang dengan kelewang atau ditembak dari jarak dekat.
Baca juga: Tampang Bengis Pelaku Mutilasi Wanita Dalam Koper yang Ditemukan Ngawi, Ternyata Suami Siri Korban
Benteng-benteng ini terbuat dari batu karang atau batu masif yang tingginya satu meter dan lebarnya setengah meter. Benteng-benteng ini praktis tidak dapat ditembusi peluru-peluru meriam kapal perang.
Ada perbentengan yang sederhana hanya berupa sebuah garis lurus di depan desa yang menghadap ke laut, dikutip dari buku "Sejarah Nasional Indonesia IV: Kemunculan Penjajahan di Indonesia". Ada pula sistem perbentengan yang lebih kompleks seperti yang terdapat di Paperu, Ouw-Ulat, dan Sisisory.
Benteng-benteng terakhir ini terdiri atas dinding yang berlapis-lapis sejajar dengan jalan masuk ke desa. Setiap pasukan musuh yang melaluinya pasti dapat diserang dengan kelewang atau ditembak dari jarak dekat.
Baca juga: Tampang Bengis Pelaku Mutilasi Wanita Dalam Koper yang Ditemukan Ngawi, Ternyata Suami Siri Korban
Benteng-benteng ini terbuat dari batu karang atau batu masif yang tingginya satu meter dan lebarnya setengah meter. Benteng-benteng ini praktis tidak dapat ditembusi peluru-peluru meriam kapal perang.
Lihat Juga :