Sejarah Kerajaan Majapahit, Daftar Raja, Kejayaan, Peninggalan, dan Warisan yang Memengaruhi Nusantara

Rabu, 15 Januari 2025 - 09:06 WIB
Penggunaan kereta perang ini terpatri dalam relief Candi Penataran, yang menggambarkan kereta perang sebagai bagian integral dari kekuatan militer Majapahit (Hikayat Raja-Raja Pasai, 1470).

Salah satu bagian paling penting dari militer Majapahit adalah Bhayangkara, pasukan elit yang bertugas melindungi raja dan keluarga kerajaan. Bhayangkara dikenal dengan peralatan perang lengkap dan keterampilan tinggi. Mereka dilengkapi dengan berbagai senjata, mulai dari senapan sundut hingga parisai dan tameng Bali yang terbuat dari logam dan dihias dengan tulisan emas.

Pasukan ini tidak hanya berfungsi sebagai pengawal pribadi, tetapi juga dapat diterjunkan dalam pertempuran untuk melindungi kepentingan kerajaan. Hikayat Banjar mengungkapkan bahwa pasukan Bhayangkara bahkan dilengkapi dengan berbagai jenis senjata tajam, seperti parisai dan tumbak parampukan, yang menunjukkan kesiapan mereka dalam berbagai situasi pertempuran (Hikayat Banjar, 1610).

Raja-raja Kerajaan Majapahit



Kerajaan Majapahit dipimpin oleh beberapa raja yang memainkan peran penting dalam sejarahnya. Berikut adalah beberapa raja terkenal yang memimpin Majapahit: Raden Wijaya (1293-1309): Pendiri Kerajaan Majapahit yang memulai pembangunan kerajaan setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang. Ia memimpin dengan bijaksana dan didampingi oleh Arya Wiraraja.

Raja Jayanegara (1309-1328): Putra Raden Wijaya yang memerintah setelah ayahnya. Masa pemerintahannya ditandai dengan beberapa pemberontakan, termasuk pemberontakan yang dilakukan oleh pengikut-pengikutnya sendiri. Raja Jayanegara akhirnya dibunuh oleh tabibnya, Tanca.

Trihuwana Tunggadewi (1328-1330): Setelah Raja Jayanegara wafat, adiknya, Trihuwana Tunggadewi, menggantikan posisinya sebagai raja. Pada masa pemerintahannya, pemberontakan berhasil dipadamkan dengan bantuan Mahapatih Gajah Mada.

Hayam Wuruk (1350-1389): Salah satu raja terbesar dalam sejarah Majapahit. Di bawah kepemimpinannya, Majapahit mencapai puncak kejayaannya, baik dalam hal politik, ekonomi, maupun budaya. Ia didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada yang memimpin kerajaan dengan visi besar.

Wikramawardhana (1390-1429): Putra mahkota yang menggantikan ayahnya, Hayam Wuruk. Meskipun ia tidak terlalu terkenal dalam sejarah, Wikramawardhana memainkan peran penting dalam mempertahankan stabilitas kerajaan setelah kematian Hayam Wuruk.

Daftar Perdana Menteri Majapahit

1. Nambi (1294 - 1316)

Nambi adalah patih pertama yang tercatat dalam sejarah Majapahit. Beliau menjabat sebagai Dharmaputra mulai tahun 1294 hingga 1316, yang tercatat dalam Prasasti Sukamerta pada tahun 1296 M. Sebagai perdana menteri, Nambi memiliki tugas penting dalam pengaturan administrasi kerajaan di bawah pemerintahan Raja Kertanegara.

2. Dyah Halayuda (Mahapati) (1316 - 1323)



Dyah Halayuda yang juga dikenal dengan gelar Mahapati, menjabat sebagai Mahamentri Katrini mulai tahun 1316 hingga 1323. Gelar ini tercatat dalam Prasasti Sidateka tahun 1323 M. Selama masa pemerintahannya, Dyah Halayuda banyak berperan dalam memperkuat stabilitas politik Majapahit dan menjaga kedamaian dalam kerajaan.

3. Arya Tadah (Empu Krewes) (1323 - 1330)



Setelah Dyah Halayuda, jabatan patih diambil alih oleh Arya Tadah, yang dikenal juga sebagai Empu Krewes. Beliau menjabat dari tahun 1323 hingga 1330, dengan rekam jejak yang tercatat dalam Prasasti Berumbung (1329 M). Arya Tadah berperan penting dalam menjaga kekuatan militer dan administrasi kerajaan Majapahit.

4. Mpu Nala (1330 - 1334)



Mpu Nala menjabat sebagai patih Majapahit antara tahun 1330 dan 1334, dan tercatat dalam Prasasti Palungan tahun 1330 M. Sebagai seorang ahli dalam bidang administratif, Mpu Nala berperan dalam penguatan struktur pemerintahan yang semakin berkembang pada masa pemerintahan Raja Jayanegara.

5. Gajah Mada (1334 - 1364)



Salah satu patih yang paling legendaris dalam sejarah Kerajaan Majapahit adalah Gajah Mada. Beliau menjabat dari tahun 1334 hingga 1364 dan dikenal dengan julukan Patih Daha. Keberhasilan Gajah Mada dalam mempersatukan Nusantara dan mengembangkan kekuasaan Majapahit sangat tercatat dalam berbagai sumber sejarah, termasuk Prasasti Batur, Prasasti Bendasari, Pararaton, dan Negarakertagama. Peranannya dalam memajukan Majapahit menjadikannya salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Indonesia.

6. Gajah Enggon (1367 - 1398)



Setelah Gajah Mada, Gajah Enggon menggantikan posisinya sebagai Bhayangkara pada tahun 1367 hingga 1398. Nama Gajah Enggon tercatat dalam Kitab Pararaton, di mana beliau bertanggung jawab atas pengelolaan pasukan dan keamanan kerajaan.

7. Gajah Manguri (1398 - 1410)



Gajah Manguri meneruskan kepemimpinan sebagai Bhayangkara dari tahun 1398 hingga 1410. Beliau juga tercatat dalam Pararaton, dan dikenal sebagai patih yang berperan dalam pengawasan dan pengaturan politik dalam kerajaan.

8. Gajah Lembana (1410 - 1413)



Gajah Lembana menjabat sebagai Bhayangkara antara tahun 1410 hingga 1413. Nama beliau juga tercatat dalam Kitab Pararaton, dan selama masa pemerintahannya, ia bertanggung jawab atas urusan keamaman serta stabilitas politik di Majapahit.

9. Tanaka (1413 - ....)



Tanaka menjabat sebagai Bhayangkara setelah Gajah Lembana pada tahun 1413. Walaupun tidak banyak informasi yang tersisa mengenai Tanaka, namanya tetap tercatat dalam Pararaton sebagai bagian dari jajaran perdana menteri Majapahit.

10. Gajah Geger (1447)



Gajah Geger tercatat dalam Prasasti Waringin Pitu tahun 1447 M sebagai seorang patih yang menjabat pada periode terakhir kejayaan Majapahit. Keberadaan beliau sebagai patih menunjukkan bahwa kekuasaan Majapahit mulai memasuki masa-masa akhir kejayaannya.

11. Wahan (.... - 1498)

Wahan, seorang patih yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi, menjabat dari periode yang tidak diketahui hingga tahun 1498. Selama masa pemerintahannya, Majapahit mulai menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal.

12. Udara (1498 - 1518)



Udara adalah patih yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi dan Suma Oriental. Beliau menjabat dari tahun 1498 hingga 1518, yang menandai periode menurunnya kejayaan Majapahit akibat tekanan dari kerajaan-kerajaan sekitar, termasuk Islam yang mulai berkembang di Nusantara.

Jabatan patih di Kerajaan Majapahit tidak hanya berfokus pada aspek pemerintahan, tetapi juga mencakup aspek militer dan hubungan antar kerajaan.

Patih-patih yang tercatat dalam sejarah ini memainkan peran penting dalam menjaga kelangsungan Majapahit sebagai kerajaan besar di Asia Tenggara pada masanya. Sebagian besar informasi mengenai para patih ini dapat ditemukan dalam Kitab Pararaton dan berbagai prasasti yang ditemukan di berbagai situs bersejarah.

Peninggalan Kerajaan Majapahit



Kerajaan Majapahit meninggalkan berbagai peninggalan yang menjadi bukti kejayaan dan kebesaran kerajaan ini.

Peninggalan tersebut meliputi candi, situs, karya sastra dan serta prasasti yang memberikan gambaran terhadap kehidupan dan kebudayaan Majapahit.

Berikut Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit



1. Candi Brahu

Candi Brahu terletak di Trowulan, Mojokerto, dan diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Candi ini diperkirakan digunakan sebagai tempat pemujaan dan sebagai tempat peristirahatan raja. Bentuk arsitekturnya yang megah dengan struktur bertingkat menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat pada masa itu.

2. Candi Penataran

Candi Penataran terletak di Blitar dan merupakan salah satu candi terbesar dan paling terkenal dari era Majapahit. Candi ini dikenal dengan relief-relief yang menceritakan berbagai kisah mitologi Hindu dan sejarah kerajaan Majapahit, termasuk kisah-kisah dari epos Ramayana dan Mahabharata.

3. Candi Sukuh

Terletak di lereng Gunung Lawu, Candi Sukuh memiliki keunikan dibandingkan dengan candi-candi lainnya di Jawa Timur. Candi ini memiliki bentuk arsitektur yang lebih sederhana dan simbolisme seksual yang lebih dominan, yang diyakini mencerminkan kepercayaan keagamaan dan filosofi yang berkembang di Majapahit.

4. Candi Cetho

Candi Cetho terletak di daerah Karanganyar, Jawa Tengah, dan dikenal dengan struktur arsitektur bertingkatnya yang indah. Candi ini memiliki nuansa spiritual yang kuat, dan hingga kini digunakan sebagai tempat untuk beribadah oleh umat yang menganut agama Hindu.

5. Candi Sawentar

Candi Sawentar, yang terletak di sekitar Trowulan, memiliki arsitektur yang unik dengan bentuk dan relief yang menggambarkan kehidupan sosial dan budaya pada masa itu. Candi ini memperlihatkan betapa canggihnya peradaban Majapahit dalam hal arsitektur dan seni.

6. Candi Gununggangsir

Candi Gununggangsir yang terletak di Mojokerto ini menyimpan misteri karena belum banyak diketahui detail tentang fungsi dan pembangunannya. Namun, berdasarkan penggalian arkeologi, diperkirakan candi ini berfungsi sebagai tempat ibadah pada masa Majapahit.

7. Candi Kalicilik

Candi Kalicilik yang berada di Desa Kalicilik, Mojokerto, menjadi salah satu peninggalan penting Majapahit yang menunjukkan kebesaran kerajaan pada masa itu. Seperti banyak candi lainnya, Kalicilik diperkirakan dibangun untuk tujuan keagamaan.

8. Candi Minak Jinggo

Candi ini terkenal karena namanya yang dikaitkan dengan tokoh legendaris dalam mitologi Jawa, Minak Jinggo. Candi Minak Jinggo terletak di daerah sekitar Trowulan, dan candi ini diperkirakan dibangun untuk memperingati peristiwa atau tokoh tertentu dalam sejarah Majapahit.

9. Candi Tikus

Candi Tikus, yang terletak di desa Trowulan, memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan candi-candi lainnya, dengan banyaknya struktur batu yang disusun seperti kolam. Candi ini mungkin digunakan sebagai tempat untuk pemandian raja atau pemujaan air.

10. Candi Gambar Wetan dan Candi Geneng

Candi Gambar Wetan dan Candi Geneng adalah dua candi yang terletak di daerah Trowulan, dan keduanya memberikan gambaran mengenai bagaimana Majapahit menggunakan candi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial. Kedua candi ini memiliki arsitektur yang menggabungkan unsur-unsur Hindu dan Buddha yang kental.

11. Candi Brahu, Candi Boyolangu, dan Candi Kendalisada

Selain candi-candi besar yang terkenal, Majapahit juga memiliki banyak candi kecil lainnya yang tersebar di berbagai wilayah, seperti Candi Brahu, Candi Boyolangu, dan Candi Kendalisada, yang masing-masing memiliki keunikan arsitektur dan relief yang memberikan petunjuk tentang kehidupan di era Majapahit.

Karya Sastra dan Situs Peninggalan Majapahit



1. Kitab Arjunawijaya

Sebuah epos yang menceritakan kisah kepahlawanan Arjuna, salah satu tokoh utama dalam Mahabharata, yang sering dipuji dalam kebudayaan Jawa.

2. Kitab Kutaramanawa Dharmasastra

Kitab ini berisi aturan-aturan hukum yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Majapahit, yang memadukan ajaran Hindu dan kebijakan lokal.

3. Kitab Panji Wijayakrama

Menyajikan kisah perjuangan dan petualangan Panji, seorang pahlawan legendaris yang menjadi simbol kesatria Jawa.

4. Kitab Harsawijaya

Sebuah teks yang menggambarkan pemerintahan dan tata negara di Majapahit, serta refleksi tentang kebijakan raja.

5. Kitab Ranggalawe

Menyampaikan cerita tentang kepahlawanan Ranggalawe, yang menjadi simbol perlawanan terhadap tirani.

6. Kitab Sorandaka

Memuat cerita tentang perjalanan spiritual dan filosofi hidup, yang mengajarkan keseimbangan antara dunia material dan spiritual.

7. Kitab Nagarakretagama

Salah satu sumber utama yang memberikan gambaran tentang struktur pemerintahan, geografi, dan kebudayaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.

8. Kitab Sundayana

Berisi cerita-cerita rakyat yang mencerminkan pandangan dunia Majapahit.

9. Kitab Sutasoma

Salah satu karya sastra yang memuat ajaran moral dan spiritual, yang sangat berpengaruh dalam tradisi Jawa.

10. Kitab Tantu Pagelaran

Mengandung cerita mitologi dan ajaran yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan politik masyarakat Majapahit.

11. Kitab Pararaton

Menyampaikan cerita sejarah dan kerajaan Majapahit, termasuk kisah-kisah tentang raja-raja Majapahit yang terkenal.

12. Kitab Usana Jawa
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!