Ketegasan Tokoh di Minahasa Tolak Berikan Beras ke Belanda hingga Pecah Peperangan

Selasa, 24 Desember 2024 - 07:41 WIB
Dikutip dari buku "Sejarah Nasional Indonesia IV : Kemunculan Penjajahan di Indonesia", di sanalah Pejabat Belanda menyampaikan instruksi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda William Daendels, yang mengharuskan setiap wilayah merekrut pemuda-pemuda di daerahnya untuk bergabung ke pasukan Belanda mengantisipasi adanya serangan dari Inggris.

Baca juga: Perayaan Natal Nasional Usung Tema Marilah Kembali ke Bethlehem, Begini Maknanya

Benar saja ketika para pemimpin masing-masing daerah menemui masyarakatnya banyak yang menolak. Justru para ukung itu akhirnya mengadakan pertemuan lagi di rumah kediaman Matulandi, di Tondano Touliang pada 2 Juni 1808 bahwa usulan Prediger, yang sebelumnya ditolak mentah-mentah.

Pemimpin - pemimpin wilayah seperti Lonto dari Tomohon, Tewu dan Matulandi dari Tondano, dan Mamait dari Remboken, hadir. Sementara kepala - kepala walak atau masyarakat dari Kakas, Remboken, Sonder, Tounsarongsong, Tompaso, Kawangkoan, Tombasian, Tonsea, Klabat, dan lainnya juga tercatat dalam pertemuan ini.

Di pertemuan antartokoh wilayah itu menyepakati adanya penolakan pemberian beras secara sukarela ke Belanda, kehadiran pasukan dari luar wilayah Minahasa, serta penolakan pemuda asal Minahasa yang direkrut untuk jadi serdadu Belanda sebagai persiapan bertempur melawan Inggris, sebagaimana instruksi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Tercatat empat hari beruntun diadakan pertemuan membahas perjanjian - perjanjian yang sebelumnya dilakukan dengan Belanda. Tapi pertemuan antara pemimpin wilayah daerah di Minahasa, dengan pejabat Belanda tetap tak menghasilkan kesepakatan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!