Kisah Sultan Agung dan Strategi Mataram Taklukkan Surabaya yang Gigih
Rabu, 19 Juni 2024 - 07:10 WIB
Pada masa kejayaan Kesultanan Mataram, Sultan Agung memiliki ambisi besar untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Salah satu target utamanya adalah Surabaya. Foto/Ilustrasi/Dok.Sindonews
Pada masa kejayaan Kesultanan Mataram , Sultan Agung memiliki ambisi besar untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Salah satu target utamanya adalah Surabaya, sebuah kota yang dikenal sebagai benteng yang kuat dan sulit ditaklukkan. Upaya Sultan Agung untuk menaklukkan Surabaya bukanlah hal yang mudah, mengingat kota tersebut telah bertahan dari berbagai serangan pada masa pemerintahan pendahulunya, Senapati Ngalaga dan Susuhunan Adiprabu Hanyakrawati.
Dalam rangka merebut Surabaya, Sultan Agung mengirim pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Surantani dan Tumenggung Alap-Alap. Namun, dalam pertempuran sengit, Tumenggung Surantani tewas di tangan Panji Pulangjiwa, menantu Rangga Tohjiwa, Bupati Malang. Meskipun demikian, Tumenggung Alap-Alap berhasil membunuh Panji Pulangjiwa dengan jebakan cerdik pada tahun 1614 M.
Pada tahun 1615 M, Sultan Agung berhasil menaklukkan Wirasaba (Mojoagung, Jombang), yang kemudian diikuti oleh keberhasilan di Lasem dan Pasuruhan pada tahun 1616 M. Pada tahun berikutnya, Sultan Agung berhasil menumpas pemberontakan di Pajang. Namun, Adipati Pajang dan panglimanya, Ki Tambakbaya, berhasil melarikan diri ke Surabaya.
Baca Juga: Sejarah Kesultanan Mataram: Pendiri, Kejayaan, Keruntuhan, dan Peninggalan
Pada tahun 1620 M, pasukan Mataram mulai mengepung Surabaya secara bertahap. Mereka membendung Kali Mas untuk memutus suplai air ke kota. Namun, Surabaya tetap bertahan meski dalam kondisi yang sulit.
Menyadari kegigihan pertahanan Surabaya, Sultan Agung mengubah strategi dengan mengirim Tumenggung Bahureksa untuk menaklukkan Sukadana di Kalimantan sebelah barat daya. Selain itu, Ki Juru Kiting dikirim untuk menaklukkan Madura pada tahun 1624 M. Pulau Madura, yang terdiri dari banyak kadipaten, akhirnya dapat disatukan di bawah kepemimpinan Pangeran Prasena yang bergelar Cakraningrat I.
Dalam rangka merebut Surabaya, Sultan Agung mengirim pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Surantani dan Tumenggung Alap-Alap. Namun, dalam pertempuran sengit, Tumenggung Surantani tewas di tangan Panji Pulangjiwa, menantu Rangga Tohjiwa, Bupati Malang. Meskipun demikian, Tumenggung Alap-Alap berhasil membunuh Panji Pulangjiwa dengan jebakan cerdik pada tahun 1614 M.
Pada tahun 1615 M, Sultan Agung berhasil menaklukkan Wirasaba (Mojoagung, Jombang), yang kemudian diikuti oleh keberhasilan di Lasem dan Pasuruhan pada tahun 1616 M. Pada tahun berikutnya, Sultan Agung berhasil menumpas pemberontakan di Pajang. Namun, Adipati Pajang dan panglimanya, Ki Tambakbaya, berhasil melarikan diri ke Surabaya.
Baca Juga: Sejarah Kesultanan Mataram: Pendiri, Kejayaan, Keruntuhan, dan Peninggalan
Pada tahun 1620 M, pasukan Mataram mulai mengepung Surabaya secara bertahap. Mereka membendung Kali Mas untuk memutus suplai air ke kota. Namun, Surabaya tetap bertahan meski dalam kondisi yang sulit.
Menyadari kegigihan pertahanan Surabaya, Sultan Agung mengubah strategi dengan mengirim Tumenggung Bahureksa untuk menaklukkan Sukadana di Kalimantan sebelah barat daya. Selain itu, Ki Juru Kiting dikirim untuk menaklukkan Madura pada tahun 1624 M. Pulau Madura, yang terdiri dari banyak kadipaten, akhirnya dapat disatukan di bawah kepemimpinan Pangeran Prasena yang bergelar Cakraningrat I.
Lihat Juga :