Pernikahan Antar Penguasa Daerah di Era Kerajaan Mataram Kuno Jadi Sarana Konsolidasi

Sabtu, 01 Juni 2024 - 06:44 WIB
Adanya hubungan antardaerah itu membayangkan adanya sarana perhubungan antara daerah yang satu dengan yang lain, sekalipun mungkin dalam bentuk yang sederhana. Mengingat perkiraan akan kepadatan penduduk Pulau Jawa di dalam zaman Mataram Kuno, dan mengingat gambaran yang diberikan oleh sumber-sumber Belanda dari abad XVII, dapat dibayangkan bahwa daerah watak yang satu mungkin terpisah dari daerah watak yang lain oleh daerah yang masih berupa hutan belukar.

Tetapi ada jalan yang menghubungkan kedua daerah watak itu, bagaimanapun kondisinya. Gambaran itu diperkuat dengan data di dalam pelbagai prasasti dari masa Rakai Watukura Dyah Balitung sampai dengan Pu Siņdok, yang menyebut pejabat dari wilayah watak A, yang berasal atau bertempat tinggal di suatu desa yang masuk ke dalam wilayah watak B.

Baca juga; Rakai Pikatan, Kisah Cinta Sejati Penguasa Mataram Kuno Pemersatu 2 Wangsa

Keterangan semacam itu dapat juga ditafsirkan sebagai petunjuk bahwa wilayah-wilayah watak yang bersangkutan memang saling berbatasan. Kalau benar demikian, gambarannya menjadi suatu Pulau Jawa yang beberapa daerahnya yang luas berpenduduk padat, yang terbagi atas beberapa daerah watak, yang terpisah oleh hambatan alami dari daerah luas lain yang juga berpenduduk padat.

Daerah yang berpenduduk padat itu diperkirakan terdapat di lembah-lembah yang merupakan daerah aliran sungai, seperti misalnya daerah aliran Bengawan Solo, daerah aliran Sungai Opak, daerah aliran Sungai Progo, daerah aliran Sungai Elo, daerah aliran Sungai Bogowonto, Serayu, Serang, Tuntang, Lusi, Brantas. Suatu survei di daerah sekitar Kedu-Temanggung yang menghasilkan adanya kelompok-kelompok permukiman yang terdapat di daerah aliran sungai-sungai, dengan menggunakan artefak yoni sebagai indikasi permukiman.
(wib)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!