Sejarah Masa Kejayaan Majapahit dan Raja Hayam Wuruk
Sabtu, 23 Maret 2024 - 11:30 WIB
Pada 1350 M, Dyah Hayam Wuruk naik tahta Majapahit menggantikan ibunya, yaitu Ratu Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani. Sebelumnya, Hayam Wuruk berkedudukan sebagai rajakumara (raja muda) di Jiwana (Kahuripan).
Kitab Pararaton menyebut tokoh ini setelah meninggal dengan sebutan Bhra Hyang Wekasing Sukha, sedangkan nama Hayam Wuruk waktu kecil menurut Pararaton ialah Raden Tetep. Masa pemerintahan Hayam Wuruk dianggap masa kejayaan Majapahit.
Sebab tidak ada konflik internal maupun eksternal dengan 'daerah-daerah lainnya, kecuali peristiwa Pasundan-Bubat di tahun 1357 M. Daerah-daerah di luar Pulau Jawa banyak yang mengakui kebesaran Majapahit.
Baca Juga: Aliran Giri dan Tuban Dalam Menyikapi Kerajaan Majapahit Nyaris Pecah Wali Songo
Hal ini terlihat dengan dikirimkannya utusan setiap tahun ke istana Hayam Wuruk. Pengiriman utusan atau upeti ke Majapahit bukan akibat penyerangan atas daerah-daerah tersebut, melainkan karena perjalanan muhibah armada dagang Majapahit yang megah ke daerah-daerah.
Kitab Pararaton menyebut tokoh ini setelah meninggal dengan sebutan Bhra Hyang Wekasing Sukha, sedangkan nama Hayam Wuruk waktu kecil menurut Pararaton ialah Raden Tetep. Masa pemerintahan Hayam Wuruk dianggap masa kejayaan Majapahit.
Sebab tidak ada konflik internal maupun eksternal dengan 'daerah-daerah lainnya, kecuali peristiwa Pasundan-Bubat di tahun 1357 M. Daerah-daerah di luar Pulau Jawa banyak yang mengakui kebesaran Majapahit.
Baca Juga: Aliran Giri dan Tuban Dalam Menyikapi Kerajaan Majapahit Nyaris Pecah Wali Songo
Hal ini terlihat dengan dikirimkannya utusan setiap tahun ke istana Hayam Wuruk. Pengiriman utusan atau upeti ke Majapahit bukan akibat penyerangan atas daerah-daerah tersebut, melainkan karena perjalanan muhibah armada dagang Majapahit yang megah ke daerah-daerah.
Lihat Juga :