Momen Para Perempuan Tangguh Berperang Bantu Pangeran Diponegoro Lawan Belanda

Sabtu, 20 Januari 2024 - 06:30 WIB
Dia merupakan salah satu perempuan dengan tingkat kecerdasan tinggi dan memiliki siasat yang luar biasa. Dia menjadi otak serangan atas komunitas Tionghoa di Ngawi pada 17 September 1825, dari pusat pertahanannya di Muneng, kabupaten suaminya di timur kali Madiun.

Dia kemudian bergabung pada pasukan Raden Sosrodilogo di Jipang - Rajekwesi, yang kini Bojonegoro antara November 1827 dan Maret 1828. Ketika menyerah pada bulan Oktober 1828 dicatat bahwa dia bersama sisa keluarganya yang lain mencukur habis rambutnya sebagai tanda kesetiaannya pada perang suci.

Baca juga; Kisah Karisma Pangeran Diponegoro yang Melelehkan Hati Perempuan Cantik

Perjuangan Raden Ayu Yudokusumo memunculkan semangat kaum perempuan lain mengangkat senjata. Di Ngawi dan pos cukai terdekat di Kudur Brubuh, Bengawan Solo, seorang perempuan peranakan Jawa Tionghoa berperan penting membentuk pasukan keamanan mempertahankan tanah mereka, menyusul manuver Raden Ayu Yudokusumo.

Para perempuan lain di desa-desa sekitar Yogyakarta juga dilaporkan menyiapkan bubuk mesiu. Bahkan Perempuan-perempuan ini juga membawa barang berharga ke medan perang, dengan mengenakan seragam tempur seperti halnya kaum pria.
(wib)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!