Soal Sekolah Tatap Muka di Bulukumba, Gubernur : Jangan Dulu, Kita Tunggu Dulu

Rabu, 05 Agustus 2020 - 07:35 WIB
Pertimbangannya, sekolah tatap muka berpotensi memunculkan kerumunan di sekolah, terlebih para siswa. Aktivitas kerumunan bisa memicu penyebaran virus lebih meluas jika tak ada protokol kesehatan yang ketat.

Selain itu, pemetaan wilayah kerawanan COVID-19 di Sulsel yang menjadi pertimbangan pembukaan sekolah turut menjadi tolok ukur. Kalaupun ada wilayah yang masuk zona hijau, tidak serta merta langsung direkomendasikan. "Makanya tunggu dulu hasil kajian tim epidemiologi kita. Mana daerah-daerah yang kira-kira sudah bisa melakukan tatap muka, tapi (dilakukan) terbatas. Mungkin waktunya juga tidak bisa sekaligus," tandasnya.

Pemerintah setempat harus menjamin kesiapan sistem atau infrastruktur pelaksanaan protokol kesehatan di sekolah. Misalnya, ketersediaan fasilitas untuk cuci tangan, jaga jarak, dan dipastikan tetap disiplin memakai masker selama di sekolah. "Saya kira Bulukumba akan konsul ke kita dulu. Nanti kita akan tunjukkan bagaimana peta klasternya. Mungkin mereka merasa karena semua yang terkonfirmasi positif dirawat di Makassar. Jadi mereka menganggap itu daerahnya hijau," sambung dia.

Tidak hanya Kabupaten Bulukumba, kata Nurdin, penegasan ini juga berlaku ke semua daerah, di seluruh sektor, termasuk kepariwisataan. Protokol kesehatan yang ketat harus dijamin terlaksana, walaupun skenario adaptasi kebiasaan baru akan direncanakan.

"Nah, termasuk itu (sektor pariwisata). Kita jangan terlalu gegabah dulu membuka. Kita persiapkan dulu fasilitasnya, kita siapkan dulu sistemnya, supaya jangan orang bergerombol. Karena gerombol itu memicu terjadinya penularan secara masif," jelas Nurdin. Baca Lagi : Update COVID-19 di Sulsel: 9.861 Positif, 6.780 Sembuh dan 328 Meninggal
(sri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!