Perangi Stunting, Ini yang Dilakukan Pemprov Babel
Kamis, 05 Oktober 2023 - 18:08 WIB
Pemprov Kep. Bangka Belitung berkomitmen serius mengentaskan permasalahan stunting di Negeri Serumpun Sebalai. (Foto: dok Pemprov Babel)
PANGKALPINANG - Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serius dalam upaya penanganan pengentasan stunting di Negeri Serumpun Sebalai. Hal ini sesuai dengan komitmen Pemprov Kep. Babel untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas, dan berdaya saing sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang telah mengarusutamakan Sustainable Development Goals (SDGs), di mana sektor kesehatan menjadi agenda ke-3 dari 7 agenda pembangunan berkelanjutan Indonesia ke depan.
Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), menunjukkan angka yang serupa dengan rilis Dinas Kesehatan Bangka Belitung. Dari survei itu, angka prevalensi stunting di Bangka Belitung sejak 2017-2023 menunjukkan tren yang terus menurun dari tahun ke tahun, 2017 (27,3%), 2018 (23,28%), 2019 (19,93%), 2020 (Tidak dihitung karena Pandemi Covid-19), 2021 (18,6), 2022 (18,5). Sementara itu, angka prevalensi per Februari tahun 2023 tercatat pada angka 3,51%.
Meskipunangka tersebut sudah di bawah prevalensi nasional pada angka 21,6 (per 2022), Pemprov Kep. Babel tetap bekerja keras dengan menjadikan Bangka Belitung sebagai daerah bebas stunting melalui program #BabelBebasStunting. Kepala Dinas Kesehatan Bangka Belitung Andri Nurtito menyebutkan bahwa langkah awal yang dilakukan pihaknya dengan upaya pendataan hingga ke pelosok desa melalui tenaga kesehatan. Bahkan hingga ke kader PKK di desa setempat.
“Pendataan juga didukung dengan aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), yang dapat memantau perkembangan gizi anak. Hal itu semakin memudahkan dinas kesehatan memiliki data yang akurat sampai tingkat desa/kelurahan. Ini penting, jadi kami bisa melakukan deteksi dini dan penanganan intervensi by name by address balita yang mempunyai masalah gizi termasuk stunting,” ucapnya.
Andri juga meyakinkan jika dengan adanya pendataan serta pengawasan secara langsung ke masyarakat. Penanganan masalah stunting yang erat kaitannya dengan permasalahan gizi di Negeri Serumpun Sebalai menjadi lebih efektif dengan adanya penanganan yang lebih intensif oleh tenaga Kesehatan yang lebih berkompeten seperti dokter, dan ahli gizi.
Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), menunjukkan angka yang serupa dengan rilis Dinas Kesehatan Bangka Belitung. Dari survei itu, angka prevalensi stunting di Bangka Belitung sejak 2017-2023 menunjukkan tren yang terus menurun dari tahun ke tahun, 2017 (27,3%), 2018 (23,28%), 2019 (19,93%), 2020 (Tidak dihitung karena Pandemi Covid-19), 2021 (18,6), 2022 (18,5). Sementara itu, angka prevalensi per Februari tahun 2023 tercatat pada angka 3,51%.
Meskipunangka tersebut sudah di bawah prevalensi nasional pada angka 21,6 (per 2022), Pemprov Kep. Babel tetap bekerja keras dengan menjadikan Bangka Belitung sebagai daerah bebas stunting melalui program #BabelBebasStunting. Kepala Dinas Kesehatan Bangka Belitung Andri Nurtito menyebutkan bahwa langkah awal yang dilakukan pihaknya dengan upaya pendataan hingga ke pelosok desa melalui tenaga kesehatan. Bahkan hingga ke kader PKK di desa setempat.
“Pendataan juga didukung dengan aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), yang dapat memantau perkembangan gizi anak. Hal itu semakin memudahkan dinas kesehatan memiliki data yang akurat sampai tingkat desa/kelurahan. Ini penting, jadi kami bisa melakukan deteksi dini dan penanganan intervensi by name by address balita yang mempunyai masalah gizi termasuk stunting,” ucapnya.
Andri juga meyakinkan jika dengan adanya pendataan serta pengawasan secara langsung ke masyarakat. Penanganan masalah stunting yang erat kaitannya dengan permasalahan gizi di Negeri Serumpun Sebalai menjadi lebih efektif dengan adanya penanganan yang lebih intensif oleh tenaga Kesehatan yang lebih berkompeten seperti dokter, dan ahli gizi.
Lihat Juga :