Sosok Joni Warsito, Aktivis yang Nekat Tempuh Jarak 3.500 Km Pakai Motor Demi Anak-anak Nias Bisa Masuk PTN
Kamis, 06 Juli 2023 - 17:25 WIB
Dibenaknya, SDM Nias yang semakin meningkat itulah yang akan mengangkat Nias dari status termiskin dan daerah tertinggal. Selama ini, belasan ribu tamatan SMA dan SMK di Kepulauan Nias, terkendala jarak, waktu dan biaya untuk mengikuti ujian masuk PTN.
Padahal, kesempatan untuk kuliah di PTN merupakan impian anak-anak Nias yang sebagian besarnya berasal dari keluarga miskin dan sederhana. Tahun 2023 ini, ada sekitar 17.492 anak Nias lulus SMA dari 242 sekolah. Sebagian besar di antaranya sulit dan gagal mengikuti seleksi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) pada Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) PTN.
Untuk bisa ke Medan, harus melewati jalur laut semalaman dari Gunungsitoli ke Sibolga, lalu harus menempuh perjalanan darat selama delapan jam dari Sibolga, ke Medan. Naik pesawat, tentu sangat mahal. Pulang pergi dibutuhkan biaya sekitar Rp2,5 juta. Belum lagi biaya penginapan. Tentu tidak mudah bagi anak kampung menembus belantara Kota Medan, terutama yang tidak punya keluarga atau kenalan.
Baca juga: Keren! Tanjungpinang Miliki Pagoda Tertinggi di Indonesia
Selain itu, berbagai program bantuan pendidikan untuk kalangan tidak mampu, belum banyak dinikmati oleh anak-anak Nias, baik KIP Kuliah atau Program Indonesia Pintar. Padahal bantuan pendidikan tersebut sangat dibutuhkan oleh anak-anak Nias, dari kalangan tidak mampu.
Empat kabupaten di Kepulauan Nias itu bertahun-tahun menyandang status daerah tertinggal. Berdasarkan data statistik, empat kabupaten di Kepulauan Nias, berada di peringkat teratas dalam hal tingkat kemiskinan dari 33 kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Keterpurukan di bidang pendidikan, menjadikan Nias tidak cepat bangkit dari status sebagai daerah tertinggal dan termiskin.
Mengamati keadaan tersebut, sehingga ia mengambil keputusan ingin bertemu ke Menteri Kemdikbudristekdikti, dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dengan naik motor dari Nias ke Jakarta. "Ke Istana Negara, bertemu Presiden Jokowi, dan Menteri Pendidikan Nadhiem Makarim, untuk memperjuangkan keadilan di bidang pendidikan bagi anak-anak di Kepulauan Nias," ungkapnya.
Padahal, kesempatan untuk kuliah di PTN merupakan impian anak-anak Nias yang sebagian besarnya berasal dari keluarga miskin dan sederhana. Tahun 2023 ini, ada sekitar 17.492 anak Nias lulus SMA dari 242 sekolah. Sebagian besar di antaranya sulit dan gagal mengikuti seleksi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) pada Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) PTN.
Untuk bisa ke Medan, harus melewati jalur laut semalaman dari Gunungsitoli ke Sibolga, lalu harus menempuh perjalanan darat selama delapan jam dari Sibolga, ke Medan. Naik pesawat, tentu sangat mahal. Pulang pergi dibutuhkan biaya sekitar Rp2,5 juta. Belum lagi biaya penginapan. Tentu tidak mudah bagi anak kampung menembus belantara Kota Medan, terutama yang tidak punya keluarga atau kenalan.
Baca juga: Keren! Tanjungpinang Miliki Pagoda Tertinggi di Indonesia
Selain itu, berbagai program bantuan pendidikan untuk kalangan tidak mampu, belum banyak dinikmati oleh anak-anak Nias, baik KIP Kuliah atau Program Indonesia Pintar. Padahal bantuan pendidikan tersebut sangat dibutuhkan oleh anak-anak Nias, dari kalangan tidak mampu.
Empat kabupaten di Kepulauan Nias itu bertahun-tahun menyandang status daerah tertinggal. Berdasarkan data statistik, empat kabupaten di Kepulauan Nias, berada di peringkat teratas dalam hal tingkat kemiskinan dari 33 kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Keterpurukan di bidang pendidikan, menjadikan Nias tidak cepat bangkit dari status sebagai daerah tertinggal dan termiskin.
Mengamati keadaan tersebut, sehingga ia mengambil keputusan ingin bertemu ke Menteri Kemdikbudristekdikti, dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dengan naik motor dari Nias ke Jakarta. "Ke Istana Negara, bertemu Presiden Jokowi, dan Menteri Pendidikan Nadhiem Makarim, untuk memperjuangkan keadilan di bidang pendidikan bagi anak-anak di Kepulauan Nias," ungkapnya.
(eyt)
Lihat Juga :