Kisah Pangeran Sambernyawa, Pendiri Mangkunegaran yang Sepak Terjangnya Ditakuti Belanda

Senin, 12 Juni 2023 - 10:13 WIB
Kehebatan Pasukan Sambernyawa dan pasukannya dalam berperang tersohor hingga saat ini. Sekitar 250 kali pertempuran pernah dijalani dan tidak menderita kekalahan berarti.

Pangeran Sambernyawa dalam menyemangati pasukannya memiliki semboyan Tiji Tibeh (mati siji mati kabeh atau mukti siji mukti kabeh), yang artinya mati satu mati semua atau makmur satu makmur semua.

Dalam sejumlah literatur disebutkan, Pangeran Sambernyawa menggunakan semboyan Tiji Tibeh untuk membakar semangat pasukannya saat bertempur.

Dengan kedigdayaan inilah kemudian Raden Mas Said mendapat sebutan Pangeran Sambernyawa (penyambar nyawa) atau penebar maut bagi musuhnya dalam medan pertempuran.

Hingga akhirnya penjajah Belanda mengajak berunding di Salatiga pada 17 Maret 1757.

Perundingan yang melibatkan Paku Buwono III, Hamengkubuwono I dan penjajah Belanda itu disepakati Pangeran Sambernyawa mendapat kekuasan adipati mandiri dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro I. Kesepakatan itu tertuang dalam Perjanjian Salatiga. Wilayah Mangkunegaran meliputi sebagian Wonogiri, Karanganyar, dan Gunungkidul.

Atas jasa-jasanya dalam perjuangan merebut kemerdekaan, Pangeran Sambernyawa yang meninggal dunia pada 28 Desember 1795 mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 1983.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!