Tim Suku Anak Dalam Peduli Karhutla Dikukuhkan
Jum'at, 24 Juli 2020 - 15:41 WIB
Terpisah, Ketua Yayasan ORIK, Ahmad Firdaus mengatakan, pengukuhan SAD Peduli Karhutla merupakan terobosan baru bagi ORIK. Pasalnya, selama ini SAD sangat rentan dimanfaati oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk membakar hutan atau lahan. "Bahkan ada sejumlah oknum yang membakar hutan atau lahan mengatasnamakan SAD," ujar dia.
Firdaus berharap dengan dikukuhkannya SAD Peduli Karhutla ini, tidak ada lagi oknum yang membakar hutan maupun lahan mengatasnamakan SAD. "Juga tidak ada lagi oknum yang manfaatkan SAD untuk membakar hutan dan lahan," katanya.
Salah seorang pimpinan SAD, Temenggung Ngadap berkata, sejak dari nenek moyang dahulu hingga sekarang mereka tinggal dan hidup di hutan. Jadi menurut dia, tidak mungkin SAD kelompok dia membakar hutan atau lahan. "Kelompok saya selama ini tinggal di hutan. Hutan adalah rumah kami, tempat kami hidup dan berkehidupan. Jadi ndak mungkin kami bakar rumah kami sendiri," kata Temenggung dari Teman Nasional Bukit Duabelas (TNBT) ini.
Hal yang sama juga diutarakan Temenggung Apung. Dia berkata, sejak diberlakukannya aturan tidak boleh membakar hutan dan lahan beberapa tahun yang lalu, dia bersama kelompoknya tidak lagi membuka lahan dengan cara dibakar. Kalaupun ada yang membakar hutan atau lahan, itu dipastikan bukan kelompok kami.
"Itu ada yang mengaku-ngaku SAD dan membakar hutan atau lahan. Padahal itu bukan kami. Mana mungkin kami membakar hutan tempat kami hidup dan berkehidupan," kata Apung.
Firdaus berharap dengan dikukuhkannya SAD Peduli Karhutla ini, tidak ada lagi oknum yang membakar hutan maupun lahan mengatasnamakan SAD. "Juga tidak ada lagi oknum yang manfaatkan SAD untuk membakar hutan dan lahan," katanya.
Salah seorang pimpinan SAD, Temenggung Ngadap berkata, sejak dari nenek moyang dahulu hingga sekarang mereka tinggal dan hidup di hutan. Jadi menurut dia, tidak mungkin SAD kelompok dia membakar hutan atau lahan. "Kelompok saya selama ini tinggal di hutan. Hutan adalah rumah kami, tempat kami hidup dan berkehidupan. Jadi ndak mungkin kami bakar rumah kami sendiri," kata Temenggung dari Teman Nasional Bukit Duabelas (TNBT) ini.
Hal yang sama juga diutarakan Temenggung Apung. Dia berkata, sejak diberlakukannya aturan tidak boleh membakar hutan dan lahan beberapa tahun yang lalu, dia bersama kelompoknya tidak lagi membuka lahan dengan cara dibakar. Kalaupun ada yang membakar hutan atau lahan, itu dipastikan bukan kelompok kami.
"Itu ada yang mengaku-ngaku SAD dan membakar hutan atau lahan. Padahal itu bukan kami. Mana mungkin kami membakar hutan tempat kami hidup dan berkehidupan," kata Apung.
(don)
Lihat Juga :