Ekspansi Kerajaan Mataram ke Timur yang Berujung Pertempuran Sengit Melawan Bali

Senin, 29 Mei 2023 - 06:32 WIB
H.J. De Graaf pada "Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I", mengisahkan bagaimana persiapan Mataram untuk menyerang Bali dengan mempersiapkan enam kapal perang. Bahkan ia ingin sekali meminjam dua atau tiga kapal dari Kompeni, tetapi tidak mau dimintanya sendiri, melainkan lebih baik disuruhnya orang lain untuk mengusulkan. Meski pada akhirnya ia sama sekali tidak berhasil.

Pada tahun 1656 dibuat rencana-rencana baru. Kepala Daerah Jepara, Ngabei Martanata, dan pembesar - pembesar lainnya dalam waktu pendek yakni dua bulan, harus mempersiapkan banyak kapal sehingga terjadi kesibukan besar untuk memperlengkapi kapal-kapal. Setiap kepala daerah harus membangun dua gobar besar.

Sultan Amangkurat I pun menyampaikan agar mengumpulkan banyak kendaraan dan senapan. Kemudian menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan, dalam hal ini berdoa. Setahun kemudian terjadi lagi hal seperti itu, abdi-abdi Sunan datang ke daerah pantai untuk meluncurkan ke laut 12 gorab, 24 lanang, dan 100 konthing, agar bersama-sama orang Palembang melancarkan perang terhadap Bali.

Sementara itu, orang Bali bersikap lebih agresif daripada orang Mataram. Di ujung timur Jawa mereka merampas sebuah perahu milik raja Makassar, yang dikirimkan kepada utusan- utusannya di Jepara. Mereka juga menyerbu Pasuruan, membakar rumah-rumah di sana, dan membunuh penduduknya.

Ngabei Martanata memerintahkan kedua menantunya membuat laporan tentang kerusakan yang diderita. Oleh sebab itu, dibuat perlengkapan baru, rencana-rencana baru, perundingan - perundingan dengan orang Makassar dan orang Banten untuk bersama-sama menyerang Bali. Mungkin ketika itu Blambangan sudah terlepas untuk selama-lamanya, karena dua tahun kemudian diperbincangkan untuk merebutnya kembali.
(msd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!