Kisah Kesultanan Demak Tak Paksa Rakyat Masuk Islam usai Taklukan Semarang, Bikin Etnis Tionghoa Betah

Senin, 10 April 2023 - 05:01 WIB
Kisah lain menyebutkan, sebagai Adipati Demak, Raden Patah memang memiliki darah Majapahit. Ayahnya, adalah Brawijaya V atau Bhre Kertabhumi, yakni raja terakhir Majapahit.

Baca juga: Memalukan! Sepak Bola Tarkam di Jember Ricuh, Pemain Lari ke Sawah

Raden Patah diangkat sebagai Sultan Demak Bintara, pada tahun 1478 M, oleh wali songo, bertepatan pada waktu Majapahit jatuh di tangan Prabu Girindrawardhana. Dia tak bisa menerima kerajaan Majapahit, jatuh ke tangan Prabu Girindrawardhana. Hal inilah yang diduga menjadi salah satu pemicu, dia menyerang Majapahit.

Darah Majapahit yang mengalir dalam diri Raden Patah, berawal dari kisah cinta Brawijaya V, kepada Siu Ban Ci, yakni putri Syekh Bentong atau Tan Go Hwat. Dalam Babad Tanah Jawi, ibu Raden Patah disebut dengan nama Siu Ban Ci, sementara dalam Naskah Mertasinga dikenal dengan nama Banyowi.

Brawijaya V jatuh cinta pada pandangan pertama, saat Siu Ban Ci dibawa ayahnya datang menghadap ke Majapahit, untuk meminta izin berdagang di wilayah Keling. Kala itu, Syekh Bentong atau juga dikenal sebagai Kyai Batong, merupakan saudagar kaya, yang juga ulama besar.

Saat menghadap ke Brawijaya V, Syekh Bentong juga membawa berbagai seserahan, yakni batu giok dari Tiongkok, kain sutra, keramik Tiongkok, dupa, dan mutiara. Tetapi, bukan seserahan itu yang membuat Brawijaya V tertarik, melainkan dia terpikat oleh kecantikan Siu Ban Ci.

Ketertarikan Brawijaya V kepada Siu Ban Ci, memicu kecemburuan Sang permaisuri, Dewi Amarawati atau Putri Champa. Namun, Brawijaya V justru mempersilahkan Syekh Bentong bersama putrinya beristirahat di Puri Kanuruhan.

Baca juga: Kisah Kesaktian Tombak Kiai Pleret Mencabut Nyawa Raja Jipang Arya Penangsang

Setelah beristirahat semalam di Puri Kanuruhan, Syekh Batong dipanggil menghadap Brawijaya V, dan diminta agar putrinya, Siu Ban Ci menjadi garwa ampeyan atau istri selirnya. Permintaan itu tak ditampik oleh Syekh Bentong.

Siu Ban Ci akhirnya dibawa menghadap Brawijaya V, dengan menggunakan tandu terbaik dari Puri Kanuruhan. Brawijaya V sangat mencitai Siu Ban Ci, hal inilah yang memicu kemarahan permaisuri, Dewi Amarawati.

Dalam Babad Tanah Jawi, diceritakan, saat Dewi Amarawati belum juga memiliki keturunan, ternyata Siu Ban Ci justru sudah hamil. Kondisi ini semakin memperburuk hubungan antara Siu Ban Ci dengan Amarawati.

Amarawati meminta Brawijaya V untuk menceraikan Siu Ban Ci. Cinta yang sudah tumbuh di hati Brawijaya V, tak dapat dipadamkan. Namun, demi menuruti permintaan sang permaisuri, akhirnya Siu Ban Ci yang sudah dalam kondisi hamil tiga bulan, dititipkan kepada Adipati Palembang, Arya Damar.

Palembang kala itu masih masuk wilayah kekuasaan Majapahit. Di wilayah tersebut, juga sangat banyak penduduk asal Tionghoa. Dengan menitipkan ke Arya Damar, Brawijaya V berharap Siu Ban Ci lebih betah hidup di Palembang.



Arya Damar sendiri merupakan putra Raja Majapahit, Bathara Prabu Wikramawardhana dengan seorang selir berdarah Tionghoa. Arya Damar yang terhitung masih paman dari Brawijaya V, memiliki nama asli Swan Liong.

Saat melepas Siu Ban Ci ke Palembang, Brawijaya V merelakan Arya Damar menikahi Sii Ban Ci, tetapi dengan syarat tidak boleh diapa-apakan sebelum anaknya lahir. Selain itu, Brawijaya V juga meminta, apabila anaknya lahir diberi nama Naraprakosa yang memiliki arti laki-laki perkasa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!